Rutinitas saya di Minggu pagi adalah mengantar & menemani Mbah Putri belanja di pasar tradisional yang lumayan jauh dari rumah saya. Tadi sepulang dari pasar saya langsung cuss menyelesaikan cucian saya. Saat saya asyik nyuci tiba-tiba Mbah yang nun jauh di ruang tamu memanggil saya yang ada di belakang dengan suara yang nyaring. Yah, sepertinya keluarga saya sudah terbiasa dengan sesuatu yang instan, mo manggil orang tapi orangnya gak ada disitu ya tinggal keluarkan jurus "TERIAK" daripada susah-susah nyari
:-D . Tak ayal kebiasaan yang satu ini sedikit-banyak (tepatnya lebih banyak) nurun ke saya. Balik lagi ke peristiwa hari ini, ternyata Mbah memanggil saya karena ada list belanja yang belum terbeli & Mbah meminta saya mencari adik saya untuk membeli belanjaan Mbah yang terlewatkan tadi.
Berhubung kebiasaan teriak-teriak udah mendarah daging, secara spontan pun tadi saya nyaris mencari adik saya sambil teriak juga. Tapi bagi saya yang suka keheningan, sebenarnya saya juga gak suka ada teriakan di rumah saya meskipun itu hanya untuk memanggil, rasanya bikin telinga saya panas, bisiiinnnggg. Sejenak saya berpikir, ini rumah atau hutan ya kok bising banget?? Bukankah ketika teriak, sebenarnya raga kita dekat tapi hati kita jauh dengan lawan bicara kita? Bukankah saya sedang berusaha menghadirkan hati saya ketika berkomunikasi dengan orang lain? Sepertinya suami saya kelak juga bakalan pusing kepala kalau saya nya masih kayak Mbak Tarzan yang sukanya teriak-teriak (emang situ mau punya istri kayak Tarzan? hehehe peace
O:) ). Dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak saya, maka tadi saya berusaha ngerem ini mulut biar gak teriak manggil-manggil adek saya. Susuri semua ruangan, cari dan tanya ke rumah paman dan Alhamdulillah saya berhasil menemukan adek saya di rumah paman yang paling muda. Pesan disampaikan dan adik sayapun bergegas ke pasar, oke Alhamdulillah tugas saya kelar
:-D
Melatih diri untuk tidak berteriak emang kelihatannya sepele, tapi efeknya hmzzz luar biasa. Gak kebayang kan betapa bisingnya jika sebuah rumah dimana hampir semua penghuninya berteriak saat mencari penghuni yang lain? Manggil aja teriak apalagi kalau sedang marah? Udah mirip di hutan kali ya? Hehehe. Dan sebuah prestasi buat saya, Alhamdulillah setidaknya di hari Minggu yang cerah ini biidznillah saya mampu mengurangi kebisingan di rumah saya dengan tidak berteriak saat memanggil adik saya tadi (lakuin sendiri, ngasih hadiah sendiri, ke-PD-an? Ya gapapa
^_^ )
Dalam sebuah komunikasi kan penting untuk Transfer of Feelings, salah satunya ya dengan suara yang ramah dan hindari berteriak. Makanya gak heran kalau orang yang lagi marahan meskipun mereka saling berhadapan bahkan dalam jarak yang sangat dekat tapi kenapa mereka teriak-teriak? Karena hatinya sedang berjauhan, jadi meskipun lawan bicara di depan kita tapi serasa jauh 10 meter di depan sana. Plaaaakk!!! Padahal ini yang ngomong kalau sedang marah tanduknya keluar sambil bicaranya teriak-teriak gak jelas (tutupin muka pake panci).
Tarik nafas dalam-dalam & keluarkan dari mulut, ulangi sampai 3 kali. Senyum lebar dan mulai hari ini saatnya saya menghindari berteriak
B|
Keep use friendly voice, avoid shouting
#29Jan2017
0 komentar:
Posting Komentar