Dalam kehidupan ini, melatih kemandirian kita maupun kemandirian anak kita menjadi mutlak untuk dilakukan. Ianya menjadi skill terpenting dalam hidup. Mengapa? Karena harus mampu bertahan dalam hidup dan kehidupan kita, harus mampu merawat dan melayani diri serta harus mampu hidup di tengah perguliran jaman yang semakin menantang sedangkan orangtua kita tidak selamanya bersama kita, kitapun juga tidak selamanya bersama anak-anak kita. Melatih kemandirian tidak hanya sebatas aspek melayani dan merawat diri seperti makan, minum, mandi dll, tapi melatih kemandirian juga berlaku pada aspek Berpikir, Memilih dan Mengambil Keputusan.
Ada hal unik yang saya temukan selama menjalankan tantangan Melatih Kemandirian. Sejauh yang saya amati, ternyata melatih kemandirian ini ada kaitannya dengan fitrah. Bagaimana bisa? Belajar dari pola nature seorang bayi, saya menyadari bahwa secara FITRAH, setiap orang berpotensi untuk mandiri hanya saja orangtua perlu memberikan teladan dan menumbuhkan fitrah tersebut agar yang baik tetap menjadi baik bahkan menjadi lebih baik lagi.
Contoh riil, ketika saya belajar "Table Manner", dengan konsep yang sederhana yaitu Melatih Kemandirian dengan menumbuhkan fitrah, saya menyadari bahwa setiap manusia mempunyai fitrah untuk hidup sehat (saya sadari setelah saya merasakan manfaat dari adab makan yang saya praktekkan). Namun ada hal saya yang disayangkan yakni ketika ada orangtua yang melatih kemandirian anak namun membentur fitrahnya, contohnya dalam "Table Manner" ini, secara fitrah seorang anak akan mengunyah makanan sampai mungkin lebih dari 33 kali agar makanan lumat sempurna dan dapat bercampur dengan enzim dengan baik dengan begitu organ pencernaannya pun akan sehat karena tidak terforsir dalam mencerna makanan namun karena orangtua lebih suka menggegas dan menyukai hal yang serba cepat dan instan maka orangtua bilang "mengunyahnya cepat dong, udah sambil minum biar makanannya cepat tertelan" maka tidak perlu heran jika kini banyak orang dewasa yang akhirnya menderita penyakit pencernaan bahkan tidak jarang kualitas kersehatannya juga relatif menurun. Ya, secara tidak sadar orangtua melatih kemandirian anaknya untuk makan namun ia merusak fitrah anak untuk hidup sehat.
Jadi, apakah melatih kemandirian itu sulit? Menurut saya asal orangtua menumbuhkan dan merawat fitrah anak maka kemandirian akan tumbuh dengan nyaman, seiring dengan tumbuhnya fitrah. Kesalahan orangtua adalah merusak fitrah anak (biasanya dimulai saat bayi) hingga ia menjadi pribadi yang "kurang mempercayai dirinya sendiri" dan akhirnya orangtua harus
bersusah payah mengembalikan potensi baiknya untuk mandiri. Dan untuk yang sudah aqil-baligh seperti saya, belum terlambat untuk melatih kemandirian sembari menumbuhkan fitrah yang mungkin masih terpendam. Indahnya hidup jika sesuai dengan fitrah yang telah Allah anugerahkan, dengan fitrah itu pula maka InsyaAllah keseimbangan hidup dapat kita capai, dan "menikmati hidup" bukan lagi sekedar mimpi atau angan-angan semata. Enjoy your life by grow up your Fitrah.
Selain dengan menumbuhkan fitrah, melatih kemandirian erat kaitannya dengan konsistensi terutama untuk memperbaiki sesuatu yang sudah saklek menjadi kebiasaan kita, dan bagi orangtua harus mampu menjadi "raja tega" dalam hal ini. Konsistensi saya banyak diuji dalam tantangan Melatih Kemandirian kali ini. Serasa naik roller coaster, konsistensi saya naik-turun. Kadang sangat bersemangat sehingga bisa tertib menjalankan point-point yang sudah saya tetapkan, namun terkadang juga semangat ini menghilang entah kemana hingga saya mengulang kebiasaan lama saya. Meskipun kadang merasa lelah, namun saya harus bersabar dan jangan berhenti dalam melatih kemandirian.
Kesimpulan saya:
*Melatih kemandirian dengan menumbuhkan dan merawat fitrah
*Melatih kemandirian sesuai dengan fitrah
Hidayatun Sholihah
#Aliranrasa
#Tantangan10Hari
#MelatihKemandirian
0 komentar:
Posting Komentar