Pages - Menu

▼

Sabtu, 18 Maret 2017

Perangkat perlindungan itu angugrah dari Allah dan ia bernama EGO

Terkuaknya kasus pedofilia yang akhir-akhir ini menjadi marak, membuat saya sedih sekaligus gemas. Namun saya sadari bahwa fenomena ini pasti bukanlah suatu kebetulan, ada pesan rahasia yang Allah sisipkan dalam takdirnya ini. Dan Alhamdulillah salah satu pesan yang tangkap adalah tentang "Pentingnya penuntasan egosentris pada anak". Sebelumnya,ada satu hal yang saya garis bawahi tentang ego ini yang mana hal itu disampaikan oleh Ust.Adriano Rusfi ketika saya mengikuti seminar beliau di Jogja beberapa waktu yang lalu yakni bahwasanya EGO BERBEDA DENGAN EGOIS. Menurut sumber yang saya dapat, Ego yaitu,persepsi seseorang tentang harga dirinya, yang seterusnya mempengaruhi keyakinan dirinya sedangkan Egois Yaitu,orang yang suka mengutamakan (menonjolkan) diri serta bermegah-megah.

Kalau di konsep fitrah masuk kepada aspek fitrah individualitas yang puncaknya terjadi pada usia 0-7 tahun. Maka wajar jika anak di bawah 7 tahun, mana mau berbagi mainan sama temannya. Mereka sama-sama main, bukan bermain bersama-sama. Anak-anak yang egosentrisnya terpuaskan maka kelak menjadi pribadi yang punya keberanian untuk mempertahankan harga dirinya, punya keberanian untuk tampil beda, punya keberanian untuk menolak bahkan punya kepercayaan diri untuk melawan.
Maha Besar Allah dengan segala kuasanya. Secara fitrah, Allah telah mempersiapkan anak untuk menumbuhkan dan menuntaskan egosentrisnya-nya di usia 0-7 tahun. Betapa Allah Maha Mengetahui apa yang harus disiapkan pada anak untuk mengarungi kehidupannya. Allah telah menganugerahkan suatu pelindung diri pada anak, dan pelindung itu bernama EGO dan jangan lupa bahwa Allah-lah sejatinya pelindung kita dan anak-anak kita. Jika egosentris terpenuhi pada EGO pada anak dapat tumbuh dengan paripurna, begitu pula sebaliknya.

Saya beruntung karena mempunyai seorang bapak yang "raja tega" dan memang inilah salah satu peran seorang ayah. Ketika saya pra-TK, saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Jika saya ingin bermain dengan teman-teman saya, maka bapak menyuruh teman saya bermain di rumah saya. Ketika sore hari, bapak seringkali mengajak saya jalan-jalan ke sawah ataupun melihat gunung sumbing-sindoro seraya menceritakan keagungan Allah. Ya bapak melatih keseharian saya berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Pun ketika masuk TK, bapak memilih sekolah di lain desa dimana disana tidak ada 1 orangpun yang saya kenal serta sayapun belum pernah berkunjung di desa tsb. Apakah lantas bapak mengenalkan saya pada teman-teman baru saya? Tidak, bapak membiarkan saya beradaptasi dengan lingkungan yang asing dan teman-teman baru saya. Dan bapak saya berpesan, "Ketika Ida takut, yakinlah bahwa Allah melindungi dan menjaga Ida".

Dan inilah awal mula pendidikan tentang EGO itu dimulai. Karena fisik saya yang lebih kecil dari teman-teman saya serta saya tidak punya teman yang saya sebelumnya, saya mulai dijaili oleh teman-teman (mungkin mereka pikir nggak bakalan ada yang ngaduin mereka ke bapak saya, secara kan nggak ada yang saya kenal). Awalnya hanya sekedar merobek buku saya, mengganggu saya yang sedang belajar corat-coret atau mengambil kursi saya dan saya pun hanya mengingatkan mereka. Hingga akhirnya mereka tambah jail ke saya hingga (maaf) mengarah pada fisik. Apakah bapak saya langsung melabrak teman-teman saya yang sudah bikin lutut lecet karena dijegal ketika jalan atau lengan saya yang biru karena cubitan mereka? Tidak, bapak selalu berada di belakang layar. Bapak justru meminta saya untuk sabar dan jangan membalas membalas kejailan mereka, namun bapak juga mengajarkan pada saya cara mempertahankan diri jika perbuatan mereka sudah diluar batas. Ini di jaman saya TK yang belum marak sinetron yang isinya didominasi oleh adegan perkelahian, mereka sudah bisa membully teman.

Pilihan bapak yang membiasakan saya untuk mampu bilang "TIDAK" bahkan percaya diri untuk melawan guna mempertahankan diri ternyata menjadi obat manjur bagi saya di kemudian hari. Ketika awal kelas 2 SD dan saya harus pulang sendirian, jalan kaki sejauh 1KM dan melawati areal persawahan yang sepi yang disana tak jarang saya bertemu orang asing yang mengajak saya membonceng sepeda motornya. Pun saat suatu ketika saya menjumpai seorang laki-laki yang memaksa saya ikut dengannya disaat kondisi jalan yang begitu lengang, karena dalam keadaan terdesak maka saya refleks menendang alat vitalnya dan lantas saya lariiiiii. Sejak saat itu saya percaya bahwa penculik itu ada. Malam harinya cerita ke bapak sambil saya "ngidak-idak" bapak dan bapak menyimak dengan antusias, wuihh senengnya hatiku.

Mungkin untuk teman-teman seumuran saya, masih ingatkah kalian ketika sekitar kelas 1 atau 2 SD dulu ada kebiasaan para anak laki-laki menyingkap rok temannya yang mana para gadis itu belum tau untuk memakasi celana pendek di balik rok mereka? Para anak laki-laki seakan bangga ketika melihat apa yang ada dibalik rok temannya hingga mereka berlomba untuk menyingkap rok teman-teman mereka, ya tidak hanya 1 orang yang disingkap roknya bahkan hampir semua anak perempuan yang ada di ruangan itu. Dan mirisnya, "rutinitas" ini biasanya justru terjadi di kelas. Saya sendiri mendapat sinyal bahwa ini adalah perbuatan yang tidak wajar, saya merasa risih. Maka ketika ada yang mencoba menyingkap rok saya, langsung saya gampar dan saya pukul meski berakhir menjadi perkelahian. Tapi saya tetap enjoy, setidaknya itulah cara saya mempertahankan diri saya. Dan semenjak kejadian itu, teman-teman laki-laki saya tidak lagi mencoba menyingkap rok saya.

Kini saya makin betapa pentingnya mempunyai EGO meski seringkali saya dicap sebagai seseorang yang keras kepala, berpendirian teguh, sukanya anti-mainstream bahkan ada yang bilang saya ini pethakilan (kalau untuk yng terakhir ini saya tutupin muka pake panci). Dan yang terpenting adalah senantiasa tanamkan dalam keyakinan kita bahwa ada Allah yang melindungi dan menjaga kita beserta anak-anak kita.

Semoga kita senantiasa dalam lindungan Allah dan dimampukan oleh Allah untuk menuntaskan egosentris anak-anak kita. Aamiin

#Egosentris
#newbie_belajar_parenting
#renungan_siang_hari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar