Pages - Menu

▼

Jumat, 14 April 2017

Aliran Rasa 1.3 "My Family Project"

Dek Akbar... Mbak minta maaf

Dulu, Mbak belum selesai dengan diri Mbak ketika Mbak harus membersamai Dek Akbar. Jika boleh jujur, saat itu Mbak belum siap sayang. Namun sepertinya Allah menghendaki Mbak segera belajar dengan lantaran kehadiranmu Dek Akbar.

Dulu, Dek Akbar dibiasakan untuk menjalankan syariat dengan aturan yang begitu baku, padahal saat itu usia Dek Akbar masih dibawah 5 tahun. Dek Akbar mengenal aturan yang begitu baku serta hukuman sebelum Dek Akbar mengenal Cinta Kasih-Nya Allah pada Dek Akbar. Dan mungkin itulah yang membuat Dek Akbar mempunyai imaji negatif tentang ibadah.

Dulu, Mbak tidak sabaran ketika Dek Akbar membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga namun hasilnya masih jauh dari yang Mbak harapkan. Mbak memandang dari kemampuan Mbak, bukan dari kemampuan Dek Akbar. Hingga Mbak tidak mengijinkan lagi Dek Akbar bermain-main dengan piring kotor, kain pel atau bahkan kompor dengan dalih "agar segera selesai".
Maka kini Mbak harus menghela nafas lebih panjang ketika untuk sekedar mencuci dan menyetrika bajumu sendiri pun Dek Akbar masih enggan.

Dulu, Dek Akbar dibiasakan untuk "diam". Memendam keinginan dan harapan di langit-langit angan-angan, tanpa berani untuk mengungkapkannya. Ibarat sebuah robot yang hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh tuannya, tak ada pilihan lain.Otoriter menjadi sesuatu yang mendominasi. Kita adalah anggota keluarga namun kita tumbuh sebagai individu sayang. Kita tinggal di bawah atap yang sama namun serasa ada jarak yang begitu jauh diantara hati kita. Jangankan mengungkapkan gagasan dan mimpi-mimpi kita, bahkan sekedar ngobrol pun menjadi suatu yang mahal bagi kita. Kita dengan kesibukan masing-masing tanpa tahu apa yang ingin dicapai oleh satu sama lain.

Tahukah kamu Dek Akbar, sudah sejak lama Mbak ingin menyentuh hatimu.
Berharap mampu menghapus jarak diantara kita.
Merasakan canda tawa bersama dan berdiskusi tentang mimpi-mimpi kita.
Mengubah status kamu dan aku menjadi kita.
Inginnya Mbak paham apa keinginan Dek Akbar dan begitu pula sebaliknya.
Bukan lagi tentang mimpimu dan mimpiku tapi ini adalah mimpi kita bersama.

Namun Mbak tak tahu dari mana harus memulainya.
Harapan terasa hampa dan melebur begitu saja karena belum menemukan jalan untuk mewujudkannya.

Laksana pelita di tengah gelapnya malam, Qodarullah Mbak sampai di materi Family Project ini.
Meski pada kenyataannya Mbak masih bingung dengan materi ini.
Meski pada prakteknya masih saaaaaangaatt  jauh dari apa yang disebut dengan Family Project.
Tapi dari belajar Family Project inilah Mbak mulai belajar menyentuh hatimu.
Dengan komunikasi yang semakin "ada" dan saling keterbukaan kita akan gagasan yang selama ini hanya dijadikan rahasia diri.

Meski begitu banyak kesalahan dan kebodohan yang Mbak lalukan di masa lalu Dek Akbar.
Meski tak mudah memperbaiki sesuatu yang telah "rusak" selama bertahun-tahun lamanya.
Meski merekontruksi itu tak semudah membangun.
Tapi tak ada kata terlambat untuk memulainya.
Tak ada kata terlambat untuk menumbuhkan kembali fitrahmu sayang.

Dan InsyaAllah Mbak akan semakin mengasah kemampuan Mbak untuk menjalankan Family Project ini.
Karena lantaran Family Project ini Mbak semakin optimis untuk menjadikan kita The Real Family, The Real Team. (Biidznillah fa InsyaAllah)
Alhamdulillah ya Allah atas jalan yang telah Engkau tunjukkan.
Semoga hamba tetap dalam tuntunan-Mu. Aamiin.

Hey my beloved Brother, let's we Raise Up Together and Make our Dream become True.
Love My Family, My Team




Tidak ada komentar:

Posting Komentar