Tadi malam ada acara di rumah saya dan jadilah saya membantu di dapur (cie elaahhh padahal masak air aja kadang gosong karena lupa, ini palah membantu di urusan masak-memasak). Karena saya tipe orang yang ingin memuaskan orang yang saya bantu, jadi saya sering tanya ini dan itu agar semuanya jelas (saking seringnya nanya jadinya kadang dapat jawaban "terserah"
:/ )
Seperti saat saya menata hidangan tadi malam:
"Hidangan nya mau ditata bagaimana?"
"Terserah Ida aja"
"Tapi Ida bingung mau ditata gimana, Mbah maunya hidangan ini ditata gimana?"
"Udah ditata aja"
"Kalau ditata seperti ini bagaimana"
"Ya boleh"
Dengan penuh keyakinan saya menata hidangan sambil diamati Mbah, tanpa dikoreksi pula oleh Mbah, makin PD deh sayanya. "Alhamdulillah Mbah diam aja semoga ini sesuai dengan keinginan Mbah, Aamiin"
"Hidangan nya mau ditata bagaimana?"
"Terserah Ida aja"
"Tapi Ida bingung mau ditata gimana, Mbah maunya hidangan ini ditata gimana?"
"Udah ditata aja"
"Kalau ditata seperti ini bagaimana"
"Ya boleh"
Dengan penuh keyakinan saya menata hidangan sambil diamati Mbah, tanpa dikoreksi pula oleh Mbah, makin PD deh sayanya. "Alhamdulillah Mbah diam aja semoga ini sesuai dengan keinginan Mbah, Aamiin"
Saat hidangan sudah disajikan kepada tamu...
"Seharusnya tadi hidangan nya disusun seperti ini dan begini, bla bla bla"
(Senyum kecut dengan wajah innocent saya) "Maaf Ida sudah mengecewakan, tadi Ida nanya tapi cuma dijawab terserah jadi kan Ida buat sebisa Ida"
"Seharusnya tadi hidangan nya disusun seperti ini dan begini, bla bla bla"
(Senyum kecut dengan wajah innocent saya) "Maaf Ida sudah mengecewakan, tadi Ida nanya tapi cuma dijawab terserah jadi kan Ida buat sebisa Ida"
***
Para perempuan pasti tau gimana rasanya ketika minta pendapat dan hanya dijawab dengan "terserah" (yang pasti bingung nya tuh disini). Dan salah satu penyebab missed communication ya ini dia "unclear and unclarify", dampaknya? Biasanya kita jadi terkurung pada tebakan kita, percaya pada asumsi kita dan memakai rumus "kira-kira". Padahal ya bisa jadi apa yang kita asumsikan, tidak sama lhoo dengan apa yang diinginkan atau yang dimaksud oleh lawan bicara kita. Ketika kita belum paham, ada baiknya kita meminta penjelasan kepada lawan bicara dan ketika diminta menjelaskan atau mengklarifikasi, seyogyanya kita berani menyampaikan pendapat, keinginan atau gagasan kita.
Jadi, ada beberapa koreksi untuk kejadian semalam, diantaranya:
1. Jika di pihak saya → harus mengklarifikasi informasi yang belum kita pahami atau kita ragu tentang informasi tersebut, DON'T ASSUME. Jangan asyik sama asumsi kita deh, jangan sok tau
:v .
Kalau lawan bicara kita adalah tipe orang yang lebih suka bilang "terserah" atau "semau kamu", nah ini jadi tantangan tersendiri buat kita untuk bantu si dia agar berani menyampaikan gagasannya.
Kelihatannya sih sepele tapi kalau kaidah Clear and Clarify ini tidak dilaksanakan dengan baik ya bisa bikin galau, contohnya ketika sepasang suami istri ingin menghadiri walimah, si istri tanya "Ayah, Bunda bagus nya pake baju yang mana, kerudungnya yang model gimana?". Si suami dengan santainya jawab "Terserah Bunda aja, Ayah ngikut". Si istri pun memakai pakaian yang menurutnya "Bagus dan Baik". Begitu mau berangkat, si suami bilang "Bunda kok palah pake baju yang ini? Ini kan bla bla bla". Jadilah si istri ganti baju lagi sambil menghela nafas panjang, nggrundel deh di hati. Awalnya sih pengen ke walimah bersama mas suami tercinta biar makin mesra, tapi alih-alih mo mesra yang ada si istri udah ndongkol duluan karena baju yang dia pakai gak sesuai dengan keinginan suami, ganti baju lagi, ngabisin waktu deh
>:O . Yang awalnya mo pergi kondangan dengan senyum lebar, jadinya ke kondangan sambil manyun, xixixi
:v . (Emang Mbak Ida pernah ngalamin ya? Kayaknya nikah aja belum lhoo. »»» Sssttt ini kan pengalaman saya pas mo ke acara walimah bersama teman saya dan suaminya).
1. Jika di pihak saya → harus mengklarifikasi informasi yang belum kita pahami atau kita ragu tentang informasi tersebut, DON'T ASSUME. Jangan asyik sama asumsi kita deh, jangan sok tau
Kalau lawan bicara kita adalah tipe orang yang lebih suka bilang "terserah" atau "semau kamu", nah ini jadi tantangan tersendiri buat kita untuk bantu si dia agar berani menyampaikan gagasannya.
Kelihatannya sih sepele tapi kalau kaidah Clear and Clarify ini tidak dilaksanakan dengan baik ya bisa bikin galau, contohnya ketika sepasang suami istri ingin menghadiri walimah, si istri tanya "Ayah, Bunda bagus nya pake baju yang mana, kerudungnya yang model gimana?". Si suami dengan santainya jawab "Terserah Bunda aja, Ayah ngikut". Si istri pun memakai pakaian yang menurutnya "Bagus dan Baik". Begitu mau berangkat, si suami bilang "Bunda kok palah pake baju yang ini? Ini kan bla bla bla". Jadilah si istri ganti baju lagi sambil menghela nafas panjang, nggrundel deh di hati. Awalnya sih pengen ke walimah bersama mas suami tercinta biar makin mesra, tapi alih-alih mo mesra yang ada si istri udah ndongkol duluan karena baju yang dia pakai gak sesuai dengan keinginan suami, ganti baju lagi, ngabisin waktu deh
2. Jika di pihak lawan bicara saya → berusaha untuk memberikan informasi sejelas mungkin, ungkapkan apa yang menjadi keinginan dan gagasan kita. Jangan asal bilang "terserah", ntar pas hasilnya gak sesuai dengan keinginan, ech itu bibir dikuncir aja
:3 . Hellooo, bagaimanapun juga, lawan bicara kita itu bukan paranormal yang bisa baca pikiran kita, yang bisa tau keinginan kita tanpa kita bilang. Jadi buat apa main tebak-tebakan. Berharap lawan bicara mengerti keinginan kita tapi kita pakenya kode-kodean. Dijalan ditanya "Lapar gak?" padahal udah lapar banget itu, tapi karena jaim jawabnya "Belum kok", katanya belum lapar tapi sampai rumah udah pucat karena perutnya sakit, haha kasihan dech. Alamaakkk, mending bilang apa adanya kan daripada nyusahin diri sendiri?
;-)
Okelah, saatnya saya melanjutkan latihan praktek kaidah 2C. Semangat....
Be Clear and Clarify. DON'T ASSUME.
#3Feb2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar