Alhamdulillah siang tadi saya meet up dengan salah satu sahabat saya. Banyak hal yang kami diskusikan tadi. Pada kesempatan kali ini, saya berusaha menghadirkan hati saya dalam komunikasi kami berdua (nggak cuma relationship aja ya yang pake hati, komunikasi juga harus bisa transfer of feeling, eaaa) dengan cara:
◎ Intensity of eye contact. Saya berusaha untuk menatap mata sahabat saya dengan lembut, dengan sepenuh hati saya. Manfaatnya? Pernah saya posting ya pada kisah saya yang berjudul The Power of Eye Contact
^_^ .
◎ Intensity of eye contact. Saya berusaha untuk menatap mata sahabat saya dengan lembut, dengan sepenuh hati saya. Manfaatnya? Pernah saya posting ya pada kisah saya yang berjudul The Power of Eye Contact
◎ Mengatur intonasi dan gestur. Sebisa mungkin saya mengontrol intonasi saya dan Alhamdulillah hal ini bisa mengurangi tempo bicara saya yang biasanya sangat cepat. Intonasi dan gestur ini juga berpengaruh lhoo pada energi yang dihasilkan. Coba deh, misalnya sama-sama bilang "Ini untukmu", yang pertama dengan suara ramah, intonasi juga enak, dan masih ditambah dengan senyuman manis dan yang kedua dengan suara yang kasar, intonasi tinggi ditambah dengan raut muka yang ketus, kira-kira mana yang membuat teman-teman bahagia & bersemangat untuk menerima pemberian darinya? Kalau saya ya pasti pilih yang pertama dong, saya kan lebih senang dapat senyuman daripada dapat wajah ketus, xixixi.
Penelitian dari Albert Mehrabian pun menunjukkan bahwa hal-hal yang mempengaruhi hasil komunikasi adalah:
→kata-kata yang disampaikan (7%)
→intonasi/nada suara (38%)
→gestur/bahasa tubuh (55%)
Jadi, keberhasilan komunikasi 70-80% ditentukan oleh bahasa tubuh dan nada suara. (Yes, harus terus diasah ini intonasi dan gesturnya, PR)
Penelitian dari Albert Mehrabian pun menunjukkan bahwa hal-hal yang mempengaruhi hasil komunikasi adalah:
→kata-kata yang disampaikan (7%)
→intonasi/nada suara (38%)
→gestur/bahasa tubuh (55%)
Jadi, keberhasilan komunikasi 70-80% ditentukan oleh bahasa tubuh dan nada suara. (Yes, harus terus diasah ini intonasi dan gesturnya, PR)
◎ Lebih banyak mendengar. Saya berusaha untuk menghargai apapun yang sahabat saya sampaikan. Meski mungkin pembahasannya hanya seputar hal-hal yang lazim, tapi saya menganggapnya sebagai topik yang luar biasa. Bahkan ketika tadi sahabat saya mengulang cerita yang entah berapa kali sudah dia ceritakan kepada saya, tapi saya menganggap bahwa itu adalah cerita yang baru, cerita yang menarik, sehingga saya harus pasang telinga baik-baik, mendengarkan dengan sepenuh hati (padahal saya masih ingat dengan jelas bagaimana alur-ceritanya
>:O ). Biasanya ketika saya mendengar cerita yang diulang, saya akan bergumam "Ini cerita udah berapa kali ya diceritakan ke saya?" atau "Bosen saya denger cerita ini lagi" atau juga "Habis ini terus alurnya pasti begini (sok tau
:v )" (dan biasanya disertai perasaan nggerundel juga, hehehe peace). Tapi jangankan teman saya, saya juga sering lhoo memutar cerita lama, dan itu tanpa saya sadari, saya lupa kalau saya pernah cerita hal itu (apa wanita itu emang suka mengulang-ulang cerita ya? Next cari referensi deh
B| ). Adakah dari teman-teman yang mengalami hal yang sama? Hayoo ngaku...
◎ Mengungkapkan sungguh-sungguh dari hati. Saya berusaha memaknai setiap ucapan yang keluar dari bibir saya. Saya berusaha agar apa yang saya ucapkan itu berasal dari hati saya, saya berusaha memakai perasaan saya tidak hanya pikiran. Bukankah yang dari hati itu juga akan sampai ke hati? Kan Transfer of Feeling, eaaaa.
Alhamdulillah banyak banget manfaat yang saya rasakan ketika saya berkomunikasi dengan menghadirkan hati saya. Saya yang biasanya cepat mengajukan argumen ketika terjadi perbedaan cara pandang, Alhamdulillah tadi saya lebih bersabar. Alhamdulillah Allah memampukan saya untuk berpikir dan menemukan titik tengah dari perbedaan cara pandang diantara kami ketimbang langsung menimpali dan bahkan (agak) cenderung memaksakan persepsi saya (padahal biasanya saya sama sahabat saya ini sukanya eyel-eyelan, tapi Alhamdulillah tadi saya bisa lebih calm
^_^). Dan yang pasti, apapun pembahasannya jadi terasa menarik. Ada value yang Alhamdulillah dapat saya ambil dari diskusi kami tadi.
Pelan tapi pasti, belajar menghadirkan hati dalam berkomunikasi. Bukan sekedar transfer informasi, tapi juga transfer perasaan. Bukan hanya sekedar berbagi, namun juga menjalin kedekatan emosi.
#1Feb2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar