Pages - Menu

▼

Jumat, 24 Februari 2017

KomunikasiProduktif14: ○○○Maaf dan Terima Kasih○○○

Siang ini hujan datang dengan tiba-tiba padahal di halaman belakang, pakaian yang dijemur berjejer dengan anggunnya. Begitu hujan datang, Dek Akbar langsung berinisiatif mengangkat jemuran Mbah yang lumayan banyak karena Mbah pun sedang istirahat tidur siang dan sayapun langsung mengamankan jemuran saya dan Pak Lek saya.
Alhamdulillah jemuran sudah diangkat dan sayapun kemudian kembali berkutat dengan notebook saya. Tidak lama kemudian ternyata ada yang sedang asyik bercakap...
"Jemurannya kering semua nggak?"
"Belum semuanya kering"
"Terus dipisah nggak?"
"Nggak."
"Tahu gitu kan tadi Mbah angkat sendiri, ngerjain pekerjaan kok gak sempurna" (kayaknya Mbah kecewa karena jemurannya campur aduk) 
"Lha tadi Mbah Nggak Bilang kok" (eh adik saya nggak mau kalah, jurus berdalihnya keluar deh)
Akhirnya Mbah ke dapur dengan emosinya sendiri, begitupun dengan Dek Akbar yang masih terpaku di tempat duduknya dengan muka ditekuk dan mulut dikuncir (jant yakin muka adik saya jelek banget deh kalau sedang ndongkol)

Saya yang jadi pendengar pun awalnya nyantai saja tapi akhirnya ikut merasakan ketidaknyamanan yang mereka rasakan. Yang ada di benak saya adalah "Bagaimana perasaan mereka?". 2 jam berlalu dan suasana belum mencair.
Saya pun menghampiri Dek Akbar lalu saya sentuh bahunya.
"Dek, makasih ya sudah angkat jemuran Mbah. Mbak bangga melihatnya (berikan apresiasi). Besok kalau angkat jemuran lagi, antara yang sudah kering dan masih basah tolong dipisah ya Dek (lakukan permohonan bukan tuntutan)"
"Iya Mbak, siap" (dengan senyum mengembang). Ceria lagi deh adik saya paling ganteng (ya iyalah, kan adik laki-laki satu-satunya ☺)
Ahamdulillah suasana mencair kembali. Dek Akbar kembali ngobrol dengan asyiknya.

Oh ya, saya sengaja nggak minta Dek Akbar minta maaf ke Mbah, karena inilah kesempatan dia belajar mengasah empatinya.

*****

Kali ini saya belajar lagi untuk menghadirkan hati saya agar saya dapat memahami perasaan adik saya. Setelah memahami apa yang dirasa, saya pun tahu apa yang Dek Akbar inginkan. Jika mungkin saya tidak belajar memahami perasaan adik saya mungkin tadi saya akan acuh dengan kejadian tadi, membiarkan suasana yang sudah kaku.

Pada kejadian tadi, saya menangkap bahwa perasaan Dek Akbar setelah (secara tidak langsung) disalahkan oleh Mbah) adalah Dek kabar merasa ndongkol. Yang Dek Akbar inginkan adalah usahanya (mengangkat jemuran baju) diapresiasi meskipun masih terdapat kekurangan (baju basah dan kering dicampur).

Belajar memahami perasaan orang lain.


#Hari14
#KomunikasiProduktif
#Kuliahbunsayiip



Tidak ada komentar:

Posting Komentar