"Tadi Dek Akbar disuruh push up sama ngelilingi lapangan ew, sebel deh"
"Haha Dek Akbar pasti melanggar peraturan ya makanya dihukum"
"Mbak Ida mah (berlalu dengan muka kesal)"
Itulah yang terjadi kemarin, secara tidak sadar saya sudah melakukan 2 kesalahan kesalahan sekaligus dalam komunikasi saya kemarin, yang pertama yaitu unclarify dan saya tidak menghadirkan hati saya. Dan parahnya saya tidak menyadari hal itu. Resultnya? Adik saya merasa kesal kepada saya.
"Haha Dek Akbar pasti melanggar peraturan ya makanya dihukum"
"Mbak Ida mah (berlalu dengan muka kesal)"
Itulah yang terjadi kemarin, secara tidak sadar saya sudah melakukan 2 kesalahan kesalahan sekaligus dalam komunikasi saya kemarin, yang pertama yaitu unclarify dan saya tidak menghadirkan hati saya. Dan parahnya saya tidak menyadari hal itu. Resultnya? Adik saya merasa kesal kepada saya.
Dan Allah menegur saya lewat kejadian semalam.
"Ta, aku gy sedih ini soalnya tadi aku bla bla bla"
"Nah, kamunya sih Da yang bla bla bla. Kamu harus bla bla bla"
Niat hati ingin perasaan saya ini didengar, diterima dan dihargai terus saya nya dikasih support gitu. Tapi nyatanya, yang saya dapatkan palah seolah-olah saya disalahkan. Gleg, seketika saja jadi merasa gak percaya diri, bingung dengan perasaan saya sendiri, ngejudge diri saya, kesal deh rasanya dan ada perasaan takut untuk curhat. "Kayaknya emang gak ada yang bisa ngertiin perasaan saya deh, udahlah dipendam sendiri aja" (gerutu saya dalam hati, padahal kalau dipendam sendiri seringnya saya larut dalam kesedihan, hahaha cengeng gitu).
"Ta, aku gy sedih ini soalnya tadi aku bla bla bla"
"Nah, kamunya sih Da yang bla bla bla. Kamu harus bla bla bla"
Niat hati ingin perasaan saya ini didengar, diterima dan dihargai terus saya nya dikasih support gitu. Tapi nyatanya, yang saya dapatkan palah seolah-olah saya disalahkan. Gleg, seketika saja jadi merasa gak percaya diri, bingung dengan perasaan saya sendiri, ngejudge diri saya, kesal deh rasanya dan ada perasaan takut untuk curhat. "Kayaknya emang gak ada yang bisa ngertiin perasaan saya deh, udahlah dipendam sendiri aja" (gerutu saya dalam hati, padahal kalau dipendam sendiri seringnya saya larut dalam kesedihan, hahaha cengeng gitu).
Sstttt saya jadi inget kejadian pas sama adik saya. Ya, mungkin demikian juga yang adik saya rasakan, dia ingin didengarkan tapi saya dengan seenaknya palah secara tidak langsung memojokkan adik saya. Akhirnya tadi siang Alhamdulillah ada moment yang pas buat ngobrol berdua.
Saya tepuk pundak adik saya.
"Dek Akbar" (pastikan lawan bicara sudah fokus dan siap menerima pesan dari saya)
"Iya Mbak"
"Mbak minta maaf ya."
"Iya Mbak"
"Hari ini kesal lagi gak di sekolah?" (sambil menatap dan senyum pada adik saya)
"Iya nie mbak"
"Boleh gak kalau Mbak tau ceritanya?"
"Jadi thu tadi Adek dipanggil ke ruang guru karena bla bla bla" dan Alhamdulillah suasana obrolan kami mencair kembali dengan sesekali diiringi gelak canda tawa kami.
Saya tepuk pundak adik saya.
"Dek Akbar" (pastikan lawan bicara sudah fokus dan siap menerima pesan dari saya)
"Iya Mbak"
"Mbak minta maaf ya."
"Iya Mbak"
"Hari ini kesal lagi gak di sekolah?" (sambil menatap dan senyum pada adik saya)
"Iya nie mbak"
"Boleh gak kalau Mbak tau ceritanya?"
"Jadi thu tadi Adek dipanggil ke ruang guru karena bla bla bla" dan Alhamdulillah suasana obrolan kami mencair kembali dengan sesekali diiringi gelak canda tawa kami.
●●●
Saya teringat salah satu tulisan Bunda Septi "Pada dasarnya kebutuhan manusia yang paling dalam adalah keinginan agar perasaannya didengar, diterima, dimengerti dan dihargai. Jadi dalam komunikasi, kita perlu meningkatkan kemampuan kita dalam mencoba memahami perasaan oranglain."
Seringkali, hasil komunikasi yang saya lakukan tidak sesuai yang diharapkan karena saya belum mampu memahami perasaan lawan bicara saya dan kadang juga sebaliknya. Kadang kita hanya perlu didengarkan, dimotivasi dan ada kalanya juga kita butuh saran, pendapat bahkan nasihat. Namun tidak selalu nya ketika kita curhat, kita butuh dinasehati atau bahkan yang tidak diharapkan adalah mendapat tanggapan seperti disalahkan atau dipojokkan oleh lawan bicara kita. Jadi sangat penting bagi saya untuk memahami perasaan lawan bicara saya agar saya paham bagaimana respon saya terhadap pesan yang saya terima, tentunya sesuai dengan kebutuhan lawan bicara saya ya.
Dan untuk memahami perasaan orang lain, sangat perlu untuk menghadirkan hati dalam setiap komunikasi. Selain itu, cara "nepakke nang awak'e dewe" bisa juga membantu untuk mengasah kemampuan kita untuk memahami perasaan orang lain.
Dan untuk memahami perasaan orang lain, sangat perlu untuk menghadirkan hati dalam setiap komunikasi. Selain itu, cara "nepakke nang awak'e dewe" bisa juga membantu untuk mengasah kemampuan kita untuk memahami perasaan orang lain.
Semangat melanjutkan tantangan komunikasi produktif.
#11Feb2017
0 komentar:
Posting Komentar