Jumat, 31 Maret 2017

1.3 Family Project 5th

Posted by Hidayatun Sholihah on Jumat, Maret 31, 2017 with No comments
Sore tadi Magelang diguyur hujan yang cukup deras, merupakan kesempatan yang asyik untuk ngobrol dengan Dek Akbar. Kami mengobrol kesana kemari hingga suatu ketika Dek Bilang bilang ingin memaksimalkan tinggi badannya dan kami pun berdiskusi mencari olahraga yang cocok untuk menambah tinggi badannya dan diantara sekian alternatif, Dek Akbar tertarik pada olahraga berenang tapi Dek Akbar belum bisa berenang (begitupun dengan saya). Sehingga saya menyarankan untuk les renang. Berkaitan dengan rencana ini, kami berdiskusi tentang 3 hal yakni, waktu, tempat, pelatih dan biaya. Untuk hal waktu dan pembayaran biaya sudah dicapai kesepakatan diantara kami.
Pada projek kali ini, saya bertugas mencari referensi pelatih untuk Dek Akbar dan Dek Akbar memilih lokasi kolam renang karena sampai saat ini Dek Akbar masih cukup pemalu. Projek ini akan dilaksanakan selama 2 hari dengan agenda:
Sabtu, 1 April 2017: Dek Akbar sepulang sekolah survei lokasi ditemani oleh temannya dan saya mencari sejak malam ini dan besok mencari referensi pembimbing renang untuk Dek Akbar.
Minggu, 2 April 2017: mepertemukan Dek AKbar dengan calon pembimbing renangnya.
Malam ini, sembari saya mengumpulkan informasi tentang pelatih renang untuk Dek Akbar, Dek Akbar juga sedang mengumpulkan informasi guna menentukan kolam renang mana saja yang akan disurveinya besok.


#Tantanganhari5
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Rabu, 29 Maret 2017

1.3 FamilyProject 4th Day

Posted by Hidayatun Sholihah on Rabu, Maret 29, 2017 with No comments
Alhamdulillah kini saya semakin merasakan manfaat dari komunikasi produktif dan family project. Alhamdulillah sore ini Dek Akbar mengemukakan salah satu idenya untuk menyelesaikan masalahnya dengan Bunda. Saya yang biasanya memancing Dek Akbar untuk cerita namun Alhamdulillah hari ini Dek Akbar berani mengajak saya diskusi. Pada pelaksanaannya, Dek Akbar mengemukakan pendapatnya kepada Bunda dengan saya sebagai mediatornya. Meski hasilnya kami belum menemukan kesepakatan, namun saya sangat menghargai usaha Dek Akbar untuk "buka suara" pada Bunda. Ini merupakan suatu pencapaian yang sangat bagus untuk Dek Akbar. Karena pola pendidikan otoriter yang diterapkan dalam keluarga kami telah sukses membuat Dek Akbar menjadi pribadi yang suka "memendam", dia bungkam seribu bahasa namun ketika ada masalah langsung berakibat pada menurunnya performa Dek Akbar di sekolah.
Kini saya menyadari bahwa Dek Akbar hakikatnya sudah memiliki benih untuk "bisa diajak bekerja sama" dan tugas saya adalah memfasilitasi agar benih itu kian tumbuh dan berkembang.
Memang tidak mudah bagi saya untuk merecovery Dek Akbar yang sudah dirusak oleh pola pendidikan yang salah selama bertahun-tahun bahkan hingga ia baligh. Namun tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki.
Dan saya optimis bahwa untuk menjadikan keluarga saya menjadi sebuah tim bukankah sekedar impian belaka, dan itu dimulai dari saya dan Dek Akbar.

#Tantanganhari4
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Selasa, 28 Maret 2017

1. 3 Family Project 3th Day

Posted by Hidayatun Sholihah on Selasa, Maret 28, 2017 with No comments
Alhamdulillah hari ini Dek Akbar libur. Selama pagi dan siang tadi saya dan Dek Akbar stay di rumah.  Melihat gudang yang acak-aca kan, akhirnya saya berinisiatif untuk membuat project dadakan yakni "Gudangku Apik". Saya diskusikan singkat dengan Dek Akbar dan ALhamdulillah Dek Akbar menyetujuinya. Pada project dadakan ini kami membersihkan dan menata ulang gudang.

Saya sebagai penanggung jawabnya. Dan sebelumnya kami diskusi terlebih dahulu tentang pembagian tugas. Dek Akbar mengambil peran untuk membongkar dan menyusun kembali (dibantu dengan saya) dan saya bertugas untuk menyortir barang serta mengepel lantai sedangkan untuk menyapu dilakukan oleh Dek Akbar.
Alhamdulillah projek berjalan dengan lancar. Selama menjalankan project, kami dapat berkomunikasi dengan lebih intens. Selain itu, melihat hasilnya yakni gudang yang bersih dan rapi, ada kelegaan dan kebahagiaan tersendiri bagi saya.

#Tantanganhari3
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Senin, 27 Maret 2017

1.1 KomunikasiProduktif15: 🌺🌺🌺Dengarkan Perasaanku🌺🌺🌺

Posted by Hidayatun Sholihah on Senin, Maret 27, 2017 with No comments
Hari ini, sudah 2 bulan aku belajar tentang Komunikasi Produktif. Alhamdulillah masih diberi keistiqomahan untuk senantiasa bermuhasabah. Siang ini aku diberi kepercayaan untuk mendengarkan curahan hati salah seorang sahabatku. Menurutku setegar apapun wanita, ia butuh "telinga" yang bersedia mendengarkan aliran rasanya. Ia mencari "telinga" yang ada di langit maupun di bumi.
"Aku ingin bercerai, aku sudah tidak kuat lagi"
Dyaarrr seperti petir di siang bolong, sahabatku yang kukenal begitu tangguh tiba-tiba saat ini ia tumbang.
Seseorang yang sedang bermasalah dengan emosinya memang cenderung fokus pada apa yang ingin ia lakukan saat ini, ia bergulat dengan "HOW" dalam pikirannya hingga mungkin terlalu pelik jika ia harus mengurai "WHY" dari tantangan yang ia hadapi saat ini.
Mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatku, hampir saja aku menghujaninya dengan segudang nasehat. Astaghfirullah, rupanya aku lupa bahwa hal pertama dan utama yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang bermasalah dengan emosinya, BUKANLAH NASEHAT yang panjang-lebar,yang ia perlukan sekarang adalah MENGALIRKAN PERASAANNYA. Mengapa? Karena ketika perasaan mengalir maka otak akan membuat perasaan tenang dan otak bisa berpikir. Lantas, tak bolehkah aku menasehatinya? Boleh, tapi tunggu dulu sampai sahabatmu selesai dengan masalah perasaannya.
So, what must I do? Saya mendengarkan curahan hati sahabatku dengan seksama, menilai tantangan kali ini dengan kaca mata dia, dengan perasaan dia. Rasanya aku hidup dalam zaman yang menyakitkan, dimana selama ini aku selalu menilai segala sesuatu dari kacamataku, dari perasaanku dan mengukur segala sesuatu berdasarkan kemampuanku. Padahal setiap orang punya ketahanan dan titik lemah yang berbeda satu dengan yang lainnya. Aku tak peduli dan tak bersedia memakai kacamata dan perasaan orang lain meski kami melihat 1 objek yang sama.
"Aku jauh dari orangtua, tapi aku tidak sebadung kamu"
"Aku tidak punya materi yang berlimpah, tapi aku tidak secengeng dia"
"Aku menjomblo tapi aku tetap bahagia. Aku tidak sesedih si Anu "(eh, yang ini nggak termasuk ya :D )
Dengan mencoba melihat tantangan dari kacamata dan perasaan sahabatku, aku pun setidaknya dapat menebak dan mendengarkan perasaan sahabatku.
"Jadi selama ini kamu merasa tidak ada yang bisa memahami kamu ya?"
"Kamu bingung dong kalau kayak gitu keadaannya?"
"Kamu sedih banget ya?"
Itulah sepenggal tebakan rasa yang kuutarakan pada sahabatku.
Ya Rabbana, betapa selama ini aku seringkali acuh dengan perasaan sahabat-sahabatku. Tidak jarang pula keluh kesah sahabatku hanya bagai angin lalu bagiku, hanya bualan tiada arti untukku. Astaghfirullah. Padahal sepele buatku, bisa jadi begitu berat baginya. Mungkin aku tegar jika diposisinya tapi bisa jadi ia justru sangat terpuruk di posisi itu.
Bagaimanapun, setiap orang punya kebutuhan dasar yakni keinginan agar perasaannya didengar, diterima, dimengerti dan dihargai.
Mendengarkan dan menebak perasaan, meluangkan waktu untuk menjadi pendengar aktif, persilahkan sahabat tercinta untuk mengalirkan perasaannya dan dengarkan dengan seksama laksana membangun irigasi untuk mengalirkan emosinya.
Jika emosinya tidak mengalir maka ia bagai air dalam bendungan yang ketika tanggulnya jebol maka ia siap menjadi banjir yang menghancurkan.
Terkadang, lunturnya empati membuatku abai pada ia yang membutuhkanku.
Aku tak acuh saat ia membutuhkan "telinga" untuk mendengarkan perasaannya.
Dan entah dimana aku berada ketika ia membutuhkan parit untuk mengalirkan luapan emosinya?
Atas keabaianku, bagaimana jika sahabat tercintaku mengambil jalan pintas seperti memilih bercerai atau bahkan bunuh diri (naudzubillahi min dzalik) karena tidak ada lagi yang mau dan bersedia mendengarkan jeritan hatinya? karena tiada lagi yang mampu memahami dan menghargai perasaannya? Hingga akhirnya emosi itu meledak. Hingga akhirnya jalan pintas dirasa menjadi jamu mujarab sebagai penyelesaiannya.
Dan kini, semakin kusadari bahwa aku butuh mendengarkan, memahami dan menghargai perasaan orang lain sebagaimana aku ingin perasaanku didengar, dipahami dan dihargai.
🌹Hidayatun Sholihah🌹
🍃Membaca hikmah dari kejadian hari ini🍃

Minggu, 26 Maret 2017

1. 3 Family Project 2nd Day

Posted by Hidayatun Sholihah on Minggu, Maret 26, 2017 with No comments
Di hari kedua, saya masih menggali penyebab kemerosotan nilai mid adik saya karena kali ini kemerosotannya benar-benar drastis. Pasti ada sesuatu yang cukup ekstrim juga yang terjadi. Saya mencuri-curi kesempatan untuk ngobrol dengan Dek Akbar, pastinya dengan diselingi dengan candaan ya karena Dek Akbar memang tipe orang yang humoris. Oh ya, Dek Akbar juga belum terlalu berani menyatakan pendapatnya jadi saya masih melontarkan analisa-analisa saya ke Dek Akbar sampai saya menemukan jawaban yang "klik" dari Dek Akbar.
Dari sekian banyak analisa yang saya katakan ke Dek Akbar, saya belum juga mendapatkan jawaban yang saya harapkan. Saya masih terus  belajar membaca bahasa tubuh Dek Akbar. Sampai suatu ketika saya bilang ke Dek Akbar:
"Sepertinya Dek Akbar seperti ini karena masalah Bunda ya?" (raut muka Dek Akbar langsung berubah)
"Ya gitu deh, entahlah apa yang Dek Akbar rasakan" (mungkinkah Dek Akbar belum mampu mengenali emosinya?)
"Dek Akbar kecewa?"
"Sedikit"
"Dek Akbar marah?"
"Nggak juga"
"Dek Akbar geram, jengkel?"
"Nah, itu dia".

Niat hati ingin melanjutkan diskusi tentang jalan keluarnya, tapi situasi tidak memungkinkan. InsyaAllah akan jadi next agenda.

Hal yang saya pelajari :
★Ketiadaan forum keluarga (di masa lalu pada keluarga saya) membuat saya dan juga Dek Akbar segan untuk berbagi cerita kepada orangtua maupun kepada saudara karena bounding diantara kami kurang kuat.
★Ketiadaan kesempatan bagi anak untuk mengemukakan pendapat (maaf, orangtua cenderung otoriter) membuat adek tidak PD untuk menyatakan pendapatnya, bahkan terkadang anak pun takut untuk berkonfrontasi. Anak menjadi kurang mempercayai dirinya sendiri dan kurang percaya pada kekuatan dalam dirinya.

Langkah perbaikan : mendekati Dek Akbar, mengajaknya ngobrol dan saya juga masih belajar mempelajari bahasa kasihnya.

#TantanganHari2
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Sabtu, 25 Maret 2017

1.3 Family Project 1st Day

Posted by Hidayatun Sholihah on Sabtu, Maret 25, 2017 with No comments
Alhamdulillah sudah semasuki materi ketiga yaitu tentang Family Project. Dan kali ini saya sampai nangis ketika mendapat challenge bahkan start saya cukup lambat. Hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah "Siapa partner saya?". Saya tinggal bersama adik saya serta Simbah putri saya dan rumah  ibu saya berdekatan dengan rumahnya adik-adik Ibu saya. Meski kami saling berdekatan, tapi kita jarang ngumpul, kami sibuk dengan urusan masing-masing, ya biasanya kami hanya sekedar say hello. Tentang adik saya, dia adalah seorang pemuda yang sudah baligh dimana dia sudah semakin sibuk bersosialisasi dengan teman-temannya. Saya dan adik saya sejak kecil termasuk pendiam, terlebih karena kami juga jarang sekali mengobrol dengan orangtua kami sehingga jelas bahwa keluarga saya adalah HOUSETEAM belum menjadi HOMETEAM.
Kalau sekedar ngobrol ringan yang durasinya singkat dengan adik saya hanya beberapa menit, InsyaAllah selama ini bisa tapi kalau ngobrol dari hati ke hati, MasyaAllah butuh usaha ekstra. Kenapa? Karena selain nggak banyak bicara, adik saya juga baru mau "bicara" kalau keadaan rumah sepi, hanya ada kami berdua di rumah. Tapi kalau diajak quality time diluar juga nggak mau.

Alhamdulillah tadi ba'da isya' hanya tinggal saya dan adik saya di rumah karena simbah sedang ke rumah pak lek. Kami pun ngobrol ngalor-ngidul sampai akhirnya dek Akbar curhat bahwa nilai mid semesternya istimewa,nilainya mi-fa-sol, hehehe. Saya dengarkan ceritanya seputar mid semester dengan seksama,tapi dek Akbar belum mau mengungkapkan apa yang menyebabkan nilai mid nya istimewa, setiap analisa yang saya kemukakan ke dek Akbar hanya ditanggapinya dengan muka datar. Sepertinya oke juga jika saya dan dek Akbar membuat Project "Dare Your Exam". Udah ada umpan tinggal lanjutkan memancing, menggali sebanyak-banyaknya WHY tentang mid semesternya dek Akbar.

#TantanganHari1
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Sabtu, 18 Maret 2017

Perangkat perlindungan itu angugrah dari Allah dan ia bernama EGO

Posted by Hidayatun Sholihah on Sabtu, Maret 18, 2017 with No comments
Terkuaknya kasus pedofilia yang akhir-akhir ini menjadi marak, membuat saya sedih sekaligus gemas. Namun saya sadari bahwa fenomena ini pasti bukanlah suatu kebetulan, ada pesan rahasia yang Allah sisipkan dalam takdirnya ini. Dan Alhamdulillah salah satu pesan yang tangkap adalah tentang "Pentingnya penuntasan egosentris pada anak". Sebelumnya,ada satu hal yang saya garis bawahi tentang ego ini yang mana hal itu disampaikan oleh Ust.Adriano Rusfi ketika saya mengikuti seminar beliau di Jogja beberapa waktu yang lalu yakni bahwasanya EGO BERBEDA DENGAN EGOIS. Menurut sumber yang saya dapat, Ego yaitu,persepsi seseorang tentang harga dirinya, yang seterusnya mempengaruhi keyakinan dirinya sedangkan Egois Yaitu,orang yang suka mengutamakan (menonjolkan) diri serta bermegah-megah.

Kalau di konsep fitrah masuk kepada aspek fitrah individualitas yang puncaknya terjadi pada usia 0-7 tahun. Maka wajar jika anak di bawah 7 tahun, mana mau berbagi mainan sama temannya. Mereka sama-sama main, bukan bermain bersama-sama. Anak-anak yang egosentrisnya terpuaskan maka kelak menjadi pribadi yang punya keberanian untuk mempertahankan harga dirinya, punya keberanian untuk tampil beda, punya keberanian untuk menolak bahkan punya kepercayaan diri untuk melawan.
Maha Besar Allah dengan segala kuasanya. Secara fitrah, Allah telah mempersiapkan anak untuk menumbuhkan dan menuntaskan egosentrisnya-nya di usia 0-7 tahun. Betapa Allah Maha Mengetahui apa yang harus disiapkan pada anak untuk mengarungi kehidupannya. Allah telah menganugerahkan suatu pelindung diri pada anak, dan pelindung itu bernama EGO dan jangan lupa bahwa Allah-lah sejatinya pelindung kita dan anak-anak kita. Jika egosentris terpenuhi pada EGO pada anak dapat tumbuh dengan paripurna, begitu pula sebaliknya.

Saya beruntung karena mempunyai seorang bapak yang "raja tega" dan memang inilah salah satu peran seorang ayah. Ketika saya pra-TK, saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Jika saya ingin bermain dengan teman-teman saya, maka bapak menyuruh teman saya bermain di rumah saya. Ketika sore hari, bapak seringkali mengajak saya jalan-jalan ke sawah ataupun melihat gunung sumbing-sindoro seraya menceritakan keagungan Allah. Ya bapak melatih keseharian saya berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Pun ketika masuk TK, bapak memilih sekolah di lain desa dimana disana tidak ada 1 orangpun yang saya kenal serta sayapun belum pernah berkunjung di desa tsb. Apakah lantas bapak mengenalkan saya pada teman-teman baru saya? Tidak, bapak membiarkan saya beradaptasi dengan lingkungan yang asing dan teman-teman baru saya. Dan bapak saya berpesan, "Ketika Ida takut, yakinlah bahwa Allah melindungi dan menjaga Ida".

Dan inilah awal mula pendidikan tentang EGO itu dimulai. Karena fisik saya yang lebih kecil dari teman-teman saya serta saya tidak punya teman yang saya sebelumnya, saya mulai dijaili oleh teman-teman (mungkin mereka pikir nggak bakalan ada yang ngaduin mereka ke bapak saya, secara kan nggak ada yang saya kenal). Awalnya hanya sekedar merobek buku saya, mengganggu saya yang sedang belajar corat-coret atau mengambil kursi saya dan saya pun hanya mengingatkan mereka. Hingga akhirnya mereka tambah jail ke saya hingga (maaf) mengarah pada fisik. Apakah bapak saya langsung melabrak teman-teman saya yang sudah bikin lutut lecet karena dijegal ketika jalan atau lengan saya yang biru karena cubitan mereka? Tidak, bapak selalu berada di belakang layar. Bapak justru meminta saya untuk sabar dan jangan membalas membalas kejailan mereka, namun bapak juga mengajarkan pada saya cara mempertahankan diri jika perbuatan mereka sudah diluar batas. Ini di jaman saya TK yang belum marak sinetron yang isinya didominasi oleh adegan perkelahian, mereka sudah bisa membully teman.

Pilihan bapak yang membiasakan saya untuk mampu bilang "TIDAK" bahkan percaya diri untuk melawan guna mempertahankan diri ternyata menjadi obat manjur bagi saya di kemudian hari. Ketika awal kelas 2 SD dan saya harus pulang sendirian, jalan kaki sejauh 1KM dan melawati areal persawahan yang sepi yang disana tak jarang saya bertemu orang asing yang mengajak saya membonceng sepeda motornya. Pun saat suatu ketika saya menjumpai seorang laki-laki yang memaksa saya ikut dengannya disaat kondisi jalan yang begitu lengang, karena dalam keadaan terdesak maka saya refleks menendang alat vitalnya dan lantas saya lariiiiii. Sejak saat itu saya percaya bahwa penculik itu ada. Malam harinya cerita ke bapak sambil saya "ngidak-idak" bapak dan bapak menyimak dengan antusias, wuihh senengnya hatiku.

Mungkin untuk teman-teman seumuran saya, masih ingatkah kalian ketika sekitar kelas 1 atau 2 SD dulu ada kebiasaan para anak laki-laki menyingkap rok temannya yang mana para gadis itu belum tau untuk memakasi celana pendek di balik rok mereka? Para anak laki-laki seakan bangga ketika melihat apa yang ada dibalik rok temannya hingga mereka berlomba untuk menyingkap rok teman-teman mereka, ya tidak hanya 1 orang yang disingkap roknya bahkan hampir semua anak perempuan yang ada di ruangan itu. Dan mirisnya, "rutinitas" ini biasanya justru terjadi di kelas. Saya sendiri mendapat sinyal bahwa ini adalah perbuatan yang tidak wajar, saya merasa risih. Maka ketika ada yang mencoba menyingkap rok saya, langsung saya gampar dan saya pukul meski berakhir menjadi perkelahian. Tapi saya tetap enjoy, setidaknya itulah cara saya mempertahankan diri saya. Dan semenjak kejadian itu, teman-teman laki-laki saya tidak lagi mencoba menyingkap rok saya.

Kini saya makin betapa pentingnya mempunyai EGO meski seringkali saya dicap sebagai seseorang yang keras kepala, berpendirian teguh, sukanya anti-mainstream bahkan ada yang bilang saya ini pethakilan (kalau untuk yng terakhir ini saya tutupin muka pake panci). Dan yang terpenting adalah senantiasa tanamkan dalam keyakinan kita bahwa ada Allah yang melindungi dan menjaga kita beserta anak-anak kita.

Semoga kita senantiasa dalam lindungan Allah dan dimampukan oleh Allah untuk menuntaskan egosentris anak-anak kita. Aamiin

#Egosentris
#newbie_belajar_parenting
#renungan_siang_hari

Rabu, 15 Maret 2017

Aliran Rasa 1.2 "Melatih Kemandirian"

Posted by Hidayatun Sholihah on Rabu, Maret 15, 2017 with No comments

Dalam kehidupan ini, melatih kemandirian kita maupun kemandirian anak kita menjadi mutlak untuk dilakukan. Ianya menjadi skill terpenting dalam hidup. Mengapa? Karena harus mampu bertahan dalam hidup dan kehidupan kita, harus mampu merawat dan melayani diri serta harus mampu hidup di tengah perguliran jaman yang semakin menantang sedangkan orangtua kita tidak selamanya bersama kita, kitapun juga tidak selamanya bersama anak-anak kita. Melatih kemandirian tidak hanya sebatas aspek melayani dan merawat diri seperti makan, minum, mandi dll, tapi melatih kemandirian juga berlaku pada aspek Berpikir, Memilih dan Mengambil Keputusan. 


Ada hal unik yang saya temukan selama menjalankan tantangan Melatih Kemandirian. Sejauh yang saya amati, ternyata melatih kemandirian ini ada kaitannya dengan fitrah. Bagaimana bisa? Belajar dari pola nature seorang bayi, saya menyadari bahwa secara FITRAH, setiap orang berpotensi untuk mandiri hanya saja orangtua perlu memberikan teladan dan menumbuhkan fitrah tersebut agar yang baik tetap menjadi baik bahkan menjadi lebih baik lagi. 

Contoh riil, ketika saya belajar "Table Manner", dengan konsep yang sederhana yaitu Melatih Kemandirian dengan menumbuhkan fitrah, saya menyadari bahwa setiap manusia mempunyai fitrah untuk hidup sehat (saya sadari setelah saya merasakan manfaat dari adab makan yang saya praktekkan). Namun ada hal saya yang disayangkan yakni ketika ada orangtua yang melatih kemandirian anak namun membentur fitrahnya, contohnya dalam "Table Manner" ini, secara fitrah seorang anak akan mengunyah makanan sampai mungkin lebih dari 33 kali agar makanan lumat sempurna dan dapat bercampur dengan enzim dengan baik dengan begitu organ pencernaannya pun akan sehat karena tidak terforsir dalam mencerna makanan namun karena orangtua lebih suka menggegas dan menyukai hal yang serba cepat dan instan maka orangtua bilang "mengunyahnya cepat dong, udah sambil minum biar makanannya cepat tertelan" maka tidak perlu heran jika kini banyak orang dewasa yang akhirnya menderita penyakit pencernaan bahkan tidak jarang kualitas kersehatannya juga relatif menurun. Ya, secara tidak sadar orangtua melatih kemandirian anaknya untuk makan namun ia merusak fitrah anak untuk hidup sehat.

Jadi, apakah melatih kemandirian itu sulit? Menurut saya asal orangtua menumbuhkan dan merawat fitrah anak maka kemandirian akan tumbuh dengan nyaman, seiring dengan tumbuhnya fitrah. Kesalahan orangtua adalah merusak fitrah anak (biasanya dimulai saat bayi) hingga ia menjadi pribadi yang "kurang mempercayai dirinya sendiri" dan akhirnya orangtua harus 
bersusah payah mengembalikan potensi baiknya untuk mandiri. Dan untuk yang sudah aqil-baligh seperti saya, belum terlambat untuk melatih kemandirian sembari menumbuhkan fitrah yang mungkin masih terpendam. Indahnya hidup jika sesuai dengan fitrah yang telah Allah anugerahkan, dengan fitrah itu pula maka InsyaAllah keseimbangan hidup dapat kita capai, dan "menikmati hidup" bukan lagi sekedar mimpi atau angan-angan semata. Enjoy your life by grow up your Fitrah.

Selain dengan menumbuhkan fitrah, melatih kemandirian erat kaitannya dengan konsistensi terutama untuk memperbaiki sesuatu yang sudah saklek menjadi kebiasaan kita, dan bagi orangtua harus mampu menjadi "raja tega" dalam hal ini. Konsistensi saya banyak diuji dalam tantangan Melatih Kemandirian kali ini. Serasa naik roller coaster, konsistensi saya naik-turun. Kadang sangat bersemangat sehingga bisa tertib menjalankan point-point yang sudah saya tetapkan, namun terkadang juga semangat ini menghilang entah kemana hingga saya mengulang kebiasaan lama saya. Meskipun kadang merasa lelah, namun saya harus bersabar dan jangan berhenti dalam melatih kemandirian.

Kesimpulan saya:
*Melatih kemandirian dengan menumbuhkan dan merawat fitrah
*Melatih kemandirian sesuai dengan fitrah

Hidayatun Sholihah


#Aliranrasa
#Tantangan10Hari
#MelatihKemandirian


Jumat, 03 Maret 2017

1.2 MelatihKemandirian9: ***Table Manner(9th Day)***

Posted by Hidayatun Sholihah on Jumat, Maret 03, 2017 with No comments
Saatnya Mengevaluasi

Tak terasa sudah memasuki hari ke-9 dan Alhamdulillah semakin terbiasa untuk istiqomah menjalankan point-point yang sudah saya tuliskan. Di hari ke-9 ini Alhamdulillah tidak ada pelanggaran pada point-point praktek. Dan secara garis besar saya sudah mulai terbiasa dengan apa yang saya latih selama ini maka target kedepannya adalah menjaga konsistensi saya.
Hari ini saya sengaja tidak menambah target praktek tapi qodarullah, tadi ketika saya makan, ada menu yang (maaf) sangat spesial sehingga saya bisa belajar untuk tidak mencela makanan.Padahal biasanya ketika ada makanan yang kurang pas di lidah, saya langsung berkomentar. Alhamdulillah hari ini saya dimampukan oleh Allah untuk menahan bibir saya supaya tidak mencela makanan yang tersaji untuk saya.

Point untuk hari ini:
☑ Point Table Manner (1st-8th Day)
☑ Tidak mencela makanan



Kamis, 02 Maret 2017

1.2 MelatihKemandirian8: Table Manner (8th Day)

Posted by Hidayatun Sholihah on Kamis, Maret 02, 2017 with No comments
Hari ini saya masih melatih diri saya untuk tidak langsung minum 1 gelas sekaligus dan bernafas di luar gelas. Hasilnya? Berkali-kali saya masih menghembuskan nafas di dalam gelas. Kelihatannya seperti hal sepele, tapi pada prakteknya, wow so amazing. Saya semakin tertantang untuk bisa mempraktekkannya dengan baik, minimal tidak melakukan pelanggaran dalam 1 hari penuh.
Ketika saya bernafas dalam gelas, saya teringat tentang dampak negatif yang ditimbulkan, sempat muncul kecewa tapi hal itu membuat saya untuk tidak mengulanginya di tegukan selanjutnya. Meski ketika di lain waktu, saya lagi-lagi (tanpa sengaja, terbawa kebiasaan lama) saya bernafas di dalam gelas lagi.
Yes, inilah bagian dari proses belajar, kadang melakukan kesalahan yang menimbulkan rasa kecewa, bahkan merasa gagal. Tapi dari kesalahan itulah saya belajar untuk lebih fokus dan berhati-hati serta memperbaiki kesalahan yang telah saya lakukan agar saya mencapai target dan "naik level". Hari ini saya belum mencapai target yang diinginkan, InsyaAllah semoga Allah masih memberikan hari esok kepada saya agar saya mampu melatih kemadirian saya lagi dan lagi. Aamiin.

.Point hari ini:
☑ Point Table Manner (1st-6th Day)
✖ Ketika minum , 2-3 tegukan lalu berhenti untuk bernapas
✖ Bernafas diluar gelas


Rabu, 01 Maret 2017

1.2 MelatihKemandirian7: ***Table Manner (7th Day)***

Posted by Hidayatun Sholihah on Rabu, Maret 01, 2017 with No comments
Tidak Langsung 1 Gelas Sekaligus

Hello hari ke-7, tidak terasa sudah genap 1 Minggu saya bermain game di tantangan Melatih Kemandirian. Seperti di postingan semalam bahwa hari ini akan ada point baru yang saya latih mulai hari ini. Point kali ini berhubungan dengan adab minum, what is it? Oke, check it out.

Hari ini saya mulai belajar untuk tidak langsung minum satu gelas sekaligus. Kenapa? Karena ketika saya minum satu gelas sekaligus, saya pasti akan minum sambil bernapas lewat hidung. Dan ketika saya bernapas, udara yang saya hirup dan saya keluarkan akan bercampur dengan air yang akan saya minum. Padahal dari hasil penemuan sains, apabila kita bernafas dan menghembuskan nafas dari hidung kita ketika minum, maka kita mengeluarkan CO2 (karbon dioksida) yang apabila bercampur dengan air (H2O) ia akan menjadi H2CO3 sama dengan Asam karbonat yang menyebabkan minuman itu menjadi asid dan asid ini adalah tidak baik untuk kesehatan. Jadi, secara tanpa sadar, ketika saya bernafas dalam gelas ketika minum atau meniup minuman sehingga air tersebut menjadi racun, justru racun itulah yang saya minum sehari-hari (tapi selama ini saya tidak menyadarinya)

Nah, solusi sekaligus point pelajaran hari ini agar saya mampu untuk tidak minum satu gelas sekaligus adalah:
1. K
etika minum itu 2-3 tegukan lalu berhenti untuk bernapas. Kemudian minum lagi 2-3 tegukan lalu berhenti. Karena untuk saat ini, jika melatih diri saya untuk minum seteguk lantas berhenti untuk bernafas, saya belum bisa. Haus saya belum hilang dengan seteguk saja. 
2. Hembuskan nafas diluar gelas. Jadi ketika minum, setelah 2-3 tegukan, lalu berhenti dan hembuskan nafas diluar gelas. 

Bagaimanapun juga, ini sangat menantang buat saya karena harus merubah kebiasaan saya yang sudah sekian tahun saya biasanya minum setengah gelas atau satu gelas sekaligus serta menghembuskan nafas di dalam gelas ketika minum (alamak, kebiasaan kurang baik ini mah, harus diperbaiki). Di hari pertama saya praktek ini, masih banyak silangnya daripada centangnya. Saya masih terbawa oleh kebiasaan saya selama ini. Tapi, tak apalah. Inilah bagian dari proses belajar saya. Bukankah hak seseorang yang sedang belajar adalah berbuat salah? (tapi jangan terus-terusan berbuat salah ya nduk...)

Suatu perubahan besar dimulai dari 1 perubahan kecil yang dijalankan secara konsisten.

Semangat memperbaiki diri...
Point hari ini:

☑ Point Table Manner (1st-6th Day)
✖ Ketika minum , 2-3 tegukan lalu berhenti untuk bernapas
✖ Bernafas diluar gelas