Selasa, 28 Februari 2017

1.2 MelatihKemandirian6: ◎◎◎Table Manner(6th Day)◎◎◎

Posted by Hidayatun Sholihah on Selasa, Februari 28, 2017 with No comments

Menguatkan Konsistensi

Hari ini saya masih menguatkan diri untuk belajar konsisten dengan target yang ada pada tantangan hari pertama hingga hari kelima khususnya pada point untuk tidak meninggalkan makan malam dan makan malam paling lambat 3 jam sebelum tidur.

Oh ya untuk kesan tadi pagi saat bangun tidur, saya belum dapat merasakan efeknya karena kan juga baru hari pertama belajar makan malam 3 jam sebelum tidur. Hehehe

Hari ini saya sengaja tidak menambah target point untuk praktek, tapi mengevaluasi konsistensi saya dalam menjalankan point praktek sejak tantangan hari pertama hingga hari kelima. Alhamdulillah hari ini saya tidak melakukan pelanggaran (asyikkk☺). Tapi untuk point makan malam 3 jam sebelum tidur masih harus lebih ditingkatkan konsistensinya karena saya masih sering tergoda untuk ngemil (meski Alhamdulillah malam ini bisa menahan).

Untuk menguatkan inner motivation saya untuk istiqomah tertib makan malam dan mengosongkan perut 3-5 jam sebelum tidur (jangan tidur setelah makan), saya mengutip sebuah hadist yang menjadi penyemangat saya:

" Jangalah kalian meninggalkan makan malam meski dengan segenggam kurma, sesungguhnya meninggalkannya itu akan mempercepat tua." (HR Ibnu Majah no.3346).

Diriwayatkan dari Aisyah Ra bahwa Nabi SAW bersabda :" Cairkan makanan kalian dengan berdzikir kepada Allah yang Maha Tinggi dan shalat, serta janganlah kalian tidur setelah makan, karena dapat membuat hati kalian menjadi keras." (HR Abu Naim).

InsyaAllah besok saya sudah siap dengan point praktek yang baru. Semangat...


Point hari ini:
☑ Point Table Manner (1st-5th Day)

#hari6
#tantangan10 hari
#melatihkemandirian
#kuliahbunsayiip

1.2 MelatihKemandirian5: ««« Table Manner(5th Day) »»»

Posted by Hidayatun Sholihah on Selasa, Februari 28, 2017 with No comments
Tertib Makan Malam 
Alhamdulillah sudah memasuki hari ke 5 dari tantangan 10 hari. Apa kabar dengan semangat saya? Alhamdulillah luar biasa. Bagaimana dengan konsistensi saya hari ini? Alhamdulillah hari ini saya dimudahkan oleh Allah untuk melaksanakan point-point yang ada pada tantangan hari ke-1 sampai ke -4 dengan lancar tanpa melakukan pelanggaran. Yes, Alhamdulillah hari ini tidak ada tanda silang pada point tantangan saya. Karena sedari pagi sudah lancar tanpa ada pelanggaran, di siang hari saya memutuskan untuk menambah 2 point lagi, yaitu jangan meninggalkan makan malam dan kosongkan perut 3-5 jam sebelum tidur.
Selama ini saya biasanya meninggalkan makan malam atau kalaupun makan malam ya menjelang tidur. Tidur jam 10 malam, eh makan malamnya jam setengah 9 malam atau bahkan jam 9 malam. Jadinya saya tidur dalam keadaan perut saya yang penuh dengan makanan deh.
Maka hari inipun saya memutuskan untuk belajar tertib makan malam dan mengosongkan perut dengan rentang waktu yang paling dekat dengan saatnya tidur yakni 3 jam sebelum tidur. Karena target tidur saya adalah jam 10 malam jadi waktu dinner saya maksimal jam 7 malam. Jadilah tadi saya makan malam jam setengah 7 malam. Sekitar jam setengah 9 malam perut saya sudah minta diisi makanan ringan, tapi Alhamdulillah berhasil saya tahan. Saya hanya minum air putih saja.
Dan malam ini saya tidur dengan perut yang mulai kosong. Bagaimana reaksi perut saya besok pagi ketika saya bangun tidur? Saya lihat saja besok. Sekarang sudah saatnya merehatkan badan. Tetap cuci muka, gosok gigi dan wudlu dulu ya sebelum tarik selimut☺
Point hari ini:
☑ Point Table Manner (1st-4th Day)
☑ Jangan meninggalkan makan malam
☑ Kosongkan perut 3-5 jam sebelum tidur
#28Feb2017

Minggu, 26 Februari 2017

1.2 MelatihKemandirian4: ◎◎◎Table Manner (4th Day)◎◎◎

Posted by Hidayatun Sholihah on Minggu, Februari 26, 2017 with No comments
Sit Down Please

Alhamduillah setelah hari ini saya rasa mampu cukup konsisten untuk membiasakan minum 30 menit sebelum makan, mengunyah makanan dengan baik serta tidak langsung minum setelah makan maka sejak pagi tadi saya menambah 1 point baru untuk saya praktekkan, yaitu:
 ★★★Makan sambil duduk ★★★
Janganlah ada salah seorang di antara kamu yang minum sambil berdiri. Barang siapa lupa, hendaklah menumpahkan apa yang diminumnya. (H.R. Muslim dari Abu Hurairah no. 375)
Dari Amir Ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya radhiyallahu ’anhum, dia berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri dan sambil duduk.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan shahih)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang laki-laki minum sambil berdiri. Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bertanya kepada Anas, ‘Kalau makan?’ Dia menjawab, ‘Itu lebih buruk -atau lebih jelek lagi-.’” (HR. Muslim)

Sepertinya adab makan sambil duduk itu sesuatu yang sepele kan? Tapi adab yang satu ini mulai luntur di kultur kebudayaan masyarakat sekarang. Selain mengikuti sunnah Nabi, secara medis pun lebih baik makan sambil duduk lhoo ketimbang berdiri.  Sebenarnya sejak kecil sayapun diajarkan untuk makan sambil duduk. Namun  mungkin  karena inner motivation serta adab yang 1 ini belum mengakar kuat menjadi habit saya, suatu ketika kebiasaan itu mulai luntur dari diri saya. Awalnya ketika SMP teman-teman saya biasanya pada jalan sambil ngemil (jarak sekolah dengan tempat ngetime angkot cukup jauh), Alhadulillah 2 tahun pertama di SMP saya mampu menahan diri untuk nggak ikut-ikutan tapi di tahun ketiga, akhirnya jebol juga (hmzz masih labil, malu deh). Kemudian saat saya SMA, lantaran saya pulangnya naik sepeda (nggak naik angkot lagi) jadi kebiasaan saya ngemil di sepanjang jalan ketika pulang sekolah bisa berhenti tapi gantinya, saya jadi suka nyamber makanan di meja ketika hendak ke dapur atau ke ruangan lain. Untuk makan besar, Alhamdulillah saya tetap sambil duduk. Tapi kalau makan snack, hadew paling suka asal samber terus dimakan sambil jalan (tutupin muka).
Nah, mulai hari ini saya bertekad untuk makan sambil duduk termasuk ketika makan kudapan. Seperti yang terjadi siang ini. Ada dadar gulung di meja, saya ambil dan saya memaksa diri saya untuk duduk lantai untuk menikmati si hijau yang lezat ini. Rasanya kaku banget, biasanya langsung masuk mulut tapi tadi harus duduk dulu. Pokoknya harus duduk dulu sebelum makan -Note for my self-.
Karena untuk menjadi calon ibu, saya harus berani merubah dan memperbaiki diri saya dulu agar bisa menjadi kebiasaan baik yang kelak mampu menjadi teladan bagi anak saya. Karena anak adalah peniru yang ulung. Mereka lebih mudah untuk mengcopy sikap dan kebiasaan kita ketimbang menuruti kata-kata kita. 
Saya ingin ketika kelak saya bilang "Nak, mana yang dicontohkan oleh Rasulullah, makan sambil duduk atau sambil berdiri?"
"Makan sambil duduk Bunda" (sambil senyum kemudian duduk dan menikmati makanannya).Ya, saya ingin ketika berkata demikian, saya sudah terlebih dahulu memberikan teladan untuk makan sambil duduk, InsyaAllah.
Lets me change to be better...

Point hari ini:
☑ Point Table Manner (1st & 2nd day)
☑ Makan sambil duduk

#hari4
#tantangan10 hari
#melatihkemandirian
#kuliahbunsayiip


Sabtu, 25 Februari 2017

KomunikasiProduktif15: «««Bahasa Kasihmu adalah..... »»»

Posted by Hidayatun Sholihah on Sabtu, Februari 25, 2017 with No comments
Beberapa waktu belakangan ini, adik saja agak bergejolak dan sayapun sukses jadi bingung dibuatnya. Saya merasa belum mampu menyentuh hatinya. Sebisa mungkin saya memperbaiki komunikasi diantara kami agar saya bisa dekat dengan adik karena selama ini kami memang kurang dekat.
Akhirnya saya meminta saran kepada salah seorang Bunda dan Jazakillah beliau memberikan saran kepada saya untuk mempelajari 5 Bahasa Kasih. Memang benar saya rasa ketika kita mendidik anak, sesungguhnya kita sedang mendidik diri kita juga. Saya mempelajari Bahasa Kasih dan berusaha menemukan Bahasa Kasih diri saya terlebih dahulu sebelum saya menemukan Bahasa Kasih adik saya (penjelasan tentang 5 Bahasa Kasih dan hasil bahasa kasih saya, saya tulis disini).
Selama ini saya amati, Dek Akbar baru buka suara kalau rumah kami sepi dan sore ini kami hanya tinggal berdua di rumah. sayapun membuka pembicaraan dan Dek Akbar akhirnya mau berbagi cerita dengan saya. saya fokus mendengarkan, belajar memahami apa yang Dek Akbar rasakan. Alhamdulillah Dek Akbar mulai bersedia mengekspresikan perasaannya. Sore ini saya mencoba memberikan "Quality Time" sebagai bahasa kasih Dek kabar. Semoga hal ini terus berlanjut. Dan sayapun akan melanjutkan pengamatan saya tentang tipe Bahasa Kasih adik saya.
Alhamdulillah pula malam ini ketika saya mencari info lebih lanjut tentang Bahasa Kasih, saya menemukan sebuah kuis online yang InsyaAllah dapat membantu saya menemukan Bahasa Kasih Dek Akbar agar saya dapat mengisi tangki emosional Dek Akbar.
Untuk meningkatkan kualitas hubungan saya dan Dek Akbar, maka sangat penting bagi saya untuk mempelajari bahasa kasih Dek Akbar.
"Banyak kenakalan anak yang dimotivasi oleh kebutuhan amat sangat untuk memenuhi tangki kasih yg kosong (Dr.RossCampbell)."

MelatihKemandirian3: ※※※TableManner(3rd Day)※※※

Posted by Hidayatun Sholihah on Sabtu, Februari 25, 2017 with No comments
Saya Tak Mampu untuk Menahan

Di hari ketiga ini, point yang saya praktekkan masih sama dengan yang kemarin tapi hari ini saya lebih fokus untuk melatih diri saya agar minum 30 menit sebelum makan, mengunyah makanan 25 kali setiap suapnya (dari target 30 kali) dan tidak langsung minum setelah makan. Subhanallah ini begitu tantangan yang menarik karena saya harus memperbaiki kebiasan adab dan cara makan yang sudah saya lakukan lebih dari 15 tahun sekaligus tantangan ini kadang bikin saya gemes ketika saya melanggar point yang telah saya tetapkan sendiri.
Seperti pada makan malam ini, saya mengunyah makanan saya dengan cepat sehingga bikin makanan saya seret. Akhirnya saya tidak bisa menahan diri untuk tidak langsung minum begitu selesai makan. ☹

Ayo Ida, semangat untuk istiqomah. Berikan hak tubuhmu dan jaga tubuhmu dengan baik.

Point untuk hari ini:
✖ Point Table Manner (1st day)
☑ Tidak makan dengan bersandar
☑ Minum 30 menit sebelum makan
✖ Tidak langsung minum setelah makan

#hari3
#tantangan10 hari
#melatihkemandirian
#kuliahbunsayiip

My Love Languanges

Posted by Hidayatun Sholihah on Sabtu, Februari 25, 2017 with No comments
Mengapa orang tua dan teman-teman saya sudah melakukan banyak hal terhadap saya namun tetap saja terkadang saya merasa kurang mendapatkan kasih sayang?
Saya seringkali merasa bingung dengan diri saya sendiri. Yang saya ketahui, mereka (orangtua dan sahabat-sahabat saya) sudah berjuang untuk menunjukkan cinta kasihnya pada saya tapi jiwa saya masih saja terasa kosong.Meski mereka mengatakan bahwa mereka mencintai saya tapi terkadang ekspresi cinta kasih mereka tidak dapat saya rasakan. Saya merasakan kurang kasih sayang.

Gary Chapman (dalam buku 5 Bahasa Kasih) mendefinisikan masalah kekurangan kasih ini dengan kosongnya "tangki emosional" . Kini saya baru tahu bahwa dalam diri setiap orang baik itu orangtua, anak, maupun pasangan terdapat tangki emosional yang perlu diisi dengan kasih sayang. Uniknya, tangki kasih seseorang berbeda dengan tangki kasih orang lain. Artinya, cara kita mengisi tangki kasih orang lain (orangtua, sahabat, pasangan ) berbeda dengan cara mereka mengisi tangki kasih kita. Apa yang membuat kita merasa dicintai, itulah bahan bakar tangki kasih kita. Dan cara untuk mengisi tangki kasih adalah dengan berbicara dalam bahasa kasihnya.  Ketika tangki kasih kita sedang rendah atau bahkan kosong, kita tidak punya perasaan mencintai pasangan dan juga tidak akan merasa dicintai.




Mayoritas pelanggaran diantara para remaja, banyaknya remaja yang melanggar aturan, ,mengutarakan emosi atau mencari kasih di tempat yang tidak layak, semua itu berakar pada tangki kasih yang kosong. Bukan selalu karena orangtua tidak menyayangi/memperhatikannya, melainkan karena orangtua tidak berbicara dalam bahasa kasih yang dimengerti si anak, karena ketulusan saja tidaklah cukup. Banyak kenakalan anak yang dimotivasi oleh kebutuhan amat sangat untuk memenuhi tangki kasih yg kosong (Dr.RossCampbell).

Begitu juga dengan tingginya angka kerentanan dalam rumah tangga bahkan perceraian menunjukkan bahwa banyak pasangan telah hidup dalam tangki kasih yang kosong. Akar masalahnya adalah mereka tidak memahami bahasa kasih pasangannya. Sehingga mereka bersikeras menggunakan cara mereka sendiri dalam mencintai pasangannya, bukan dengan cara yang diinginkan oleh pasangannya. Akibatnya mereka merasa tidak dicintai oleh pasangannya, mereka sudah terlalu banyak memberi namun tidak menerima balasannya. Contoh study kasusnya bisa diklik disini. Pada saat orang jatuh cinta, untuk sementara waktu kebutuhan emosionalnya akan cinta terpenuhi,
namun "pengalaman jatuh cinta " berbeda dengan "kebutuhan emosional" & ada saatnya ia berakhir (rata-rata 2 tahun setelah menikah). Pada saat fase jatuh cinta ini berakhir, perjalanan cinta sesungguhnya dari sebuah rumah tangga baru dimulai. Kita dipaksa untuk memahami pasangan untuk bisa memenuhi kebutuhan emosionalnya sesuai dengan bahasa kasihnya. Cinta emosional bisa ditumbuhkan kembali dalam suatu pernikahan,kuncinya adalah mempelajari bahasa kasih yang utama pasangan anda & memilih untuk berbicara dengan bahasa tersebut.

Untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan pasangan atau anak-anak kita, maka sangat penting bagi kita untuk mempelajari bahasa kasih pasangan dan anak-anak kita.




Ragam bahasa kasih ada 5 sehingga sering disebut dengan 5 Bahasa Kasih (5 Love Languanges), yaitu:
1. Waktu berkualitas, dapat berupa:              ☆Percakapan yang mengesankan
                                                         ☆Aktivitas yang mengesankan
2. Sentuhan fisik
3. Tindakan melayani
4. Pemberian hadiah
5. Kata-kata pujian

Ada berbagai cara untuk menemukan bahasa kasih yang utama bagi kita. Untuk saya pribadi, saya menggunakan kuis 5 Bahasa Kasih baik secara online ataupun offline. Untuk kuis 5 Bahasa Kasih secara online dapat klik disini (5 Bahasa Kasih untuk Remaja usia 13-18 tahun) atau disini (5 Bahasa Kasih untuk Pasangan / usia 18 tahun keatas). Nah, untuk yang kuis offline, bisa dilihat disini. Dan seseorang bisa memiliki bahasa kasih ganda.

Pada tes online yang link saya sertakan tadi,hasilnya akan tampak satu bahasa kasih kita yang paling dominan. Seperti halnya hasil milik saya, ternyata bahasa kasih saya yang paling dominan adalah Quality Time (Waktu Berkualitas) 


Sebelumnya, saya juga sudah mengisi kuis Bahasa Kasih yang offline, hasilnya adalah sebagi berikut:
Hasil kuis Bahasa Kasih secara offline lebih detail sehingga kita bisa membuat urutan Bahasa Kasih kita.
Hasilnya, saya punya 3 jenis Bahasa Kasih yang dominan, tapi yang paling dominan yakni Quality Time, uyee sama dengan hasil kuis online. Oh ya, Hadiah bukanlah tipe Bahasa Kasih saya. Padahal awalnya saya berpikir bahwa cara menunjukkan cinta kasih ke perempuan itu identik dengan pemberian hadiah, namun setelah mengisi kuis tersebut saya sadar bahwa tidak semua wanita akan merasa dicintai dengan dilimpahi banyak hadiah. Pantas saja meski diberi banyak hadiah, tapi saya merasa belum sepenuhnya dicintai karena ternyata Bahasa Kasih saya adalah melakukan percakapan atau aktivitas yang mengesankan. Kebersamaan dan perhatian penuh adalah sesuatu yang sangat berharga bagi saya. "Bagi orang-orang dengan tipe bahasa Quality Time, hal paling penting yang dapat mereka berikan adalah perhatian penuh (undivided attention). Mereka senang meluangkan waktu bersama orang-orang yang dicintai, untuk mendengar dengan tulus, serius, dan fokus tentang kisah hidup mereka. Jelas sekali bahwa orang-orang ini adalah pendengar yang baik, cocok dijadikan partner bagi mereka yang suka curhat ☺". (cie katanya cocok dijadikan partner buat curhat, ehem-ehem). Saat saya berbicara, saya selalu membutuhkan intensity of eye contact dan saya ingin lawan bicara saya dapat memahami perasaan saya, fokus pada simpati bukan nasehat/solusi serta jangan menyela pembicaraan saya. Yupz, that's my self.

Alhamdulillah betapa bahagianya saya, dengan semakin menemukan diri saya yang sesungguhnya, saya makin memahami seperti apa diri saya. Harapannya, saya tidak hanya menuntut oranglain untuk mengerti saya, namun saya juga dapat mengemukakan apa yang saya inginkan dan saya butuhkan.

#Catatan di sudut malam
#5 Bahasa Kasih - Gary Chapman
#Self Discovery
#Menemukan diri sendiri



Sumber:
*Resume Buku 5 Bahasa Kasih yang ditulis oleh Bunda UmiSalihah19112016
*Berbagai artikel tentang 5 Bahasa Kasih
*Pengalaman dan opini pribadi

Jumat, 24 Februari 2017

MelatihKemandirian2: ◎◎◎Table Manner (2nd day)◎◎◎

Posted by Hidayatun Sholihah on Jumat, Februari 24, 2017 with No comments
30 Menit Sebelum Makan

Hari ini saya masih melanjutkan point yang saya praktekkan kemarin namun ada penambahannya. Diantaranya saya belajar untuk tidak sandaran ketika makan dan mencoba konsisten mengunyah 25 kali setiap suapnya (dari target min.30 kali). Otomatis ketika setiap suapan saya kunyah 25 kali, tempo makan saya pun semakin lambat,paling tidak saya butuh 15 menit untuk menghabiskan 1 porsi makanan. Selain itu, ada point yang benar-benar membuat saya tertantang untuk mempraktekkannya yaitu saya belajar untuk minum paling tidak 30 menit sebelum makan. Kenapa 30 menit sebelum makan? Menurut Prof.Hiromi Shinya (Penulis Buku Miracle of Enzyme) hal tersebut agar air sudah sempat diserap oleh usus lebih dulu. Selain itu hari ini saya juga belajar untuk tidak langsung minum setelah makan. Mengapa? Agar makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna.

Ada hal menarik yang saya temukan pada kesempatan praktek hari ini yaitu ternyata ada korelasi antara minum 30 menit sebelum makan, setiap suapan dikunyah 30 kali serta tidak langsung minum setelah makan. Selama ini saya selalu minum sebelum makan dan langsung minum setelah selesai makan, kenapa? Karena seringkali makanan saya seret saat masuk ke tenggorokan. Tetapi berbeda dengan hari ini. Saya minum 30 menit sebelum makan. Kemudian saya mencoba mengunyah 25 kali setiap suapnya untuk hari ini, Alhamdulillah dengan mengunyah 25 kali saya tidak merasa seret lagi. MasyaAllah baru saya sadari bahwa seret yang selama ini saya alami merupakan indikasi bahwa makanan belum saya kunyah dengan baik sehingga makanan tidak tercampur dengan enzim amilase di mulut saya secara sempurna, inilah yang menyebabkan seret ketika makan. Setelah makan pun saya menahan diri saya untuk langsung minum, sehingga saya merasa produksi air liur saya pun meningkat (dimana dalam air liur itu terkandung enzim amilase). Oh ya,untuk mengunyah makanan 30 kali setiap suapnya, ada konsekuensinya lhoo, yaitu waktu makan kita jadi lebih lama. Tapi menurut saya tidak masalah jika waktu makan kita menjadi lebih lama, bukankah seperti itulah fitrah makan kita?

Kenapa saya bilang sebagai fitrah? Karena saya teringat cara makan anak-anak. Bukankah anak-anak lah yang biasanya fitrahnya masih suci? Anak-anak biasanya mengunyah makanan mereka sampai entah berapa kali kunyahan hingga untuk menelan satu suapan saja rasaya lama, tapi meskipun anak-anak itu makannya lama tapi jarang lhoo yang seret hingga minta minum di tengah makan atau ketika mereka selesai makan. Justru terkadang orang dewasa lah yang merasa tidak sabar dengan lamanya mereka makan sehingga bilang "ngunyahnya cepat dong" atau "ini minum biar gak seret". Padahal dengan minum air ketika atau setelah makan, makanan tidak bercampur enzim dengan sempurna sehingga merasa seret bahkan makanan yang tidak bercampur enzim dengan sempurna akan memberatkan kerja lambung dan usus. Ya, anak-anak sudah terinstall fitrah cara makan sejak lahir, dimana fitrah itu mendukung organ pencernaan agar berfungsi dan bekerja dengan optimal.Namun terkadang orang dewasa lah yang merusak fitrah itu. Mereka lebih suka dengan sesuatu yang instan dan cepat. Hingga makan pun harus digegas.

Semoga Allah memampukan saya untuk mengembalikan dan merawat fitrah cara makan saya sebagai ikhtiar saya dalam merawat seperangkat organ yang MasyaAllah sudah Allah anugerahkan pada saya. Ketika saya mampu makan sesuai dengan fitrah saya, saya berharap kelak saya menjadi orang tua yang mampu menjaga cara makan anak-anak saya sesuai dengan fitrah yang sudah Allah berikan. Aamiin.

Point yang dipraktekkan hari ini:
☑ Point Table Manner (1st day)
☑ Tidak makan dengan bersandar
☑ Minum 30 menit sebelum makan
☑ Tidak langsung minum setelah makan


#hari2
#tantangan10 hari
#melatihkemandirian
#kuliahbunsayiip

KomunikasiProduktif14: ○○○Maaf dan Terima Kasih○○○

Posted by Hidayatun Sholihah on Jumat, Februari 24, 2017 with No comments
Siang ini hujan datang dengan tiba-tiba padahal di halaman belakang, pakaian yang dijemur berjejer dengan anggunnya. Begitu hujan datang, Dek Akbar langsung berinisiatif mengangkat jemuran Mbah yang lumayan banyak karena Mbah pun sedang istirahat tidur siang dan sayapun langsung mengamankan jemuran saya dan Pak Lek saya.
Alhamdulillah jemuran sudah diangkat dan sayapun kemudian kembali berkutat dengan notebook saya. Tidak lama kemudian ternyata ada yang sedang asyik bercakap...
"Jemurannya kering semua nggak?"
"Belum semuanya kering"
"Terus dipisah nggak?"
"Nggak."
"Tahu gitu kan tadi Mbah angkat sendiri, ngerjain pekerjaan kok gak sempurna" (kayaknya Mbah kecewa karena jemurannya campur aduk) 
"Lha tadi Mbah Nggak Bilang kok" (eh adik saya nggak mau kalah, jurus berdalihnya keluar deh)
Akhirnya Mbah ke dapur dengan emosinya sendiri, begitupun dengan Dek Akbar yang masih terpaku di tempat duduknya dengan muka ditekuk dan mulut dikuncir (jant yakin muka adik saya jelek banget deh kalau sedang ndongkol)

Saya yang jadi pendengar pun awalnya nyantai saja tapi akhirnya ikut merasakan ketidaknyamanan yang mereka rasakan. Yang ada di benak saya adalah "Bagaimana perasaan mereka?". 2 jam berlalu dan suasana belum mencair.
Saya pun menghampiri Dek Akbar lalu saya sentuh bahunya.
"Dek, makasih ya sudah angkat jemuran Mbah. Mbak bangga melihatnya (berikan apresiasi). Besok kalau angkat jemuran lagi, antara yang sudah kering dan masih basah tolong dipisah ya Dek (lakukan permohonan bukan tuntutan)"
"Iya Mbak, siap" (dengan senyum mengembang). Ceria lagi deh adik saya paling ganteng (ya iyalah, kan adik laki-laki satu-satunya ☺)
Ahamdulillah suasana mencair kembali. Dek Akbar kembali ngobrol dengan asyiknya.

Oh ya, saya sengaja nggak minta Dek Akbar minta maaf ke Mbah, karena inilah kesempatan dia belajar mengasah empatinya.

*****

Kali ini saya belajar lagi untuk menghadirkan hati saya agar saya dapat memahami perasaan adik saya. Setelah memahami apa yang dirasa, saya pun tahu apa yang Dek Akbar inginkan. Jika mungkin saya tidak belajar memahami perasaan adik saya mungkin tadi saya akan acuh dengan kejadian tadi, membiarkan suasana yang sudah kaku.

Pada kejadian tadi, saya menangkap bahwa perasaan Dek Akbar setelah (secara tidak langsung) disalahkan oleh Mbah) adalah Dek kabar merasa ndongkol. Yang Dek Akbar inginkan adalah usahanya (mengangkat jemuran baju) diapresiasi meskipun masih terdapat kekurangan (baju basah dan kering dicampur).

Belajar memahami perasaan orang lain.


#Hari14
#KomunikasiProduktif
#Kuliahbunsayiip



Kamis, 23 Februari 2017

MelatihKemandirian1: ○◎●Table Manner (1st Day)●◎○

Posted by Hidayatun Sholihah on Kamis, Februari 23, 2017 with No comments
How Fast I Am

Welcome the first day of my challenge in the 2nd chapter. Tadi pagi saya merumuskan beberapa point yang harus saya kuasai di tantangan kali ini, yakni tentang Table Manner. Sebenarnya aturan Table Manner mungkin cukup banyak dan saya pribadi sebenarnya belum begitu paham apa saja aturan Table Manner tapi yang saya tulis ini adalah yang menurut saya paling penting dan mendesak serta belum mampu saya laksanakan. Kenapa saya memilih Table Manner sebagai tantangan pertama saya di materi kedua ini? Jawabannya bisa klik disini. Alhamdulillah pada kesempatan makan siang dan makan malam hari ini, saya dapat mempraktekkan salah satunya.What is it? Lets guess it first ;-)

My Table Manner Challenge

Sedari kecil, saya dikenal sebagai gadis yang makannya luamaaa banget. Baik saat makan sendirian maupun ketika makan bersama, saya selalu tertinggal diantara yang lain. Untuk menghabiskan 1 porsi makanan bisa membutuhkan waktu lebih dari 25 menit, hehehe setiap suapan dikunyah lebih dari 30 kali mungkin ya.Hal ini berlanjut sampai saya aqil baligh bahkan sampai saya lulus SMA (parah amat ya?). Kebiasaaan ini sedikit demi sedikit mulai berkurang ketika saya bekerja di pabrik yang waktu rehatnya sangat limit. Dari target menghabiskan makanan dalam waktu tidak lebih dari 15 menit sampai akhirnya jadi 5 menit, wow so fast. Kunyah 4-5 kali langsung telan. Yang penting kenyang. Semenjak saya makan sangat cepat, saya terkena masalah pencernaan. Tapi kebiasaan makan dengan cepat berlanjut sampai sekarang.
Sering juga lhoo aku malu sendiri karena saat makan bersama, kadang saya yang tercepat menghabiskan makanan saya, uppsssttt.

Oke, it's enough. Lets me change to be better. Yang biasanya saya butuh waktu sekitar 5 menit saja untuk seporsi makanan, hari ini saya belajar memperlambat tempo makan saya, alhamdulillah sekitar 8-10  menit untuk sekali makan. Dengan seperti ini Alhamdulillah saya dapat mengatur jumlah makanan dalam setiap suapan dan mampu mengunyah makanan saya dengan lebih baik meski saya yakin untuk satu suapan belum sampai 30 kali kunyahan. Memperlambat tempo makan itu membuat saya merasa "Saya kok makannya gak lekas selesai ya?" ☺, hehehe biasa makan cepat sih.

Point yang dilaksanakan hari ini:
☑ Jangan makan terlalu cepat
☑ Atur jumlah makanan dalam 1 suapan
☑ Kunyahlah setiap suap min.30 kali

Dimulai hari ini dan lanjutkan untuk hari berikutnya sampai menjadi habit. Semangat memulai dan menjaga konsistensi.

Alhamdulillah 'ala kulli hal , InsyaAlllah saya siap untuk tantangan hari esok. 

#hari1
#tantangan10 hari
#melatihkemandirian
#kuliahbunsayiip

Rabu, 22 Februari 2017

One Week One Skill

Posted by Hidayatun Sholihah on Rabu, Februari 22, 2017 with No comments
Hi my new chapter, I wish you welcome for my new challenge ☺. Kini saatnya saya memacu diri saya di materi kedua di KuliahBunSayIIP, yaitu tentang Memandu Kemandirian Anak. Kata Anak nya langsung bikin saya mupeng sama challenge nya. Kalau saya ngasuh anak mah oke nie bisa langsung praktek sama anak, tapi nyatanya saya kan belum ngasuh anak (secara konsisten dan kontinyu). Kalau sesekali momong adik sepupu mah biasa, lumayan kan buat sesekali ajang praktek materi BunSay☺. Materi saya cerna pelan-pelan, Alhamdulillah sudah ada gambaran dan tibalah saatnya challenge diberikan. Especially untuk yang masih single bahagia seperti saya ini, challenge kali ini adalah One Week One Skill. Eaaa, saya langsung merenungkan basic skills apa aja yang belum saya kuasai dan ternyata hasilnya buanyaaakkk bu. Rasanya saya pengen bisa ini dan itu banyak sekali. Layaknya ilmu, skill juga jangan kayak badai ya, harus punya prioritas dan milestone yang jelas dalam mempelajarinya. Well, saya pun di H+1 dari pemberian challenge alias kemarin, saya merenung lama untuk menentukan skill apa saja yang paling menjadi prioritas saya. Alhamdulillah kemarin saya dapat 1 skill yaitu Tidying Up. Padahal kan minimal ada 4 skill ya? Berarti masih kurang 3 lagi, akhirnya perenungan berlanjut di hari ini dan saya dapat tiga skill lagi yaitu Table Manner, Cash Flow dan Super Health. Alhamdulillah complete for my first 4 basic skills.

My First One Week One Skill

Mungkin ada yang merasa aneh ya dengan 4 skills yang saya pilih karena biasanya kan basic skill perempuan itu identik dengan masak, iya gak? Sebenarnya skill memasak juga menjadi agenda saya karena saya juga belum pandai masak (tutupin muka deh). Tapi berhubung ada sesuatu hal jadi skill memasak akan saya pelajari di kesempatan selanjutnya ya, Insya Allah. Sekarang saya fokus ke skill yang sudah saya tentukan terlebih dahulu. Saya menyadari betapa pentingnya bagi saya untuk menguasai keterampilan-keterempilan dasar. Karena saya calon manager keluarga (InsyaAllah, Aamiin.)

Oh ya, mungkin ada bertanya kenapa sih saya memilih 4 skills diatas? Nah, ini dia alasan saya:

1. Table Manner
Kultur budaya di masyarakat saat ini kurang memperhatikan bagaimana table manner yang baik dan benar. Table Manner sendiri ada 3, yaitu Table Manner Syariah, Table Manner Konvensional dan Table Manner Internasional. Dan kali ini saya lebih fokus mempelajari Table Manner Syariah. Table Manner ini sangat bermanfaat ketika saya makan bersama. However, ketika cara makan saya dengan sikap yang tidak umum, pasti akan mengganggu orang lain. Bahkan terkadang, tata cara di meja mencerminkan etika dan kepribadian seseorang. Seberapa pun tingginya jabatan seseorang atau seorang "terpelajar" tapi jika adab makannya buruk, (misalnya ketika mulutnya penuh dengan makanan, sambil mengunyah dia tetap meneruskan pembicaraan dengan saya hingga makanan yang dikunyahnya nampak jelas di hadapan saya) itu menjadikan saya merasa terganggu. Seenak apapun hidangannya kalau terganggu dengan cara makan orang lain, kan jadi gak selera lagi, ya gak? Selain itu, Nabi Muhammad pun telah mengajarkan adab makan yang baik dan benar (tapi belum sepenuhnya mampu saya praktekkan, sehingga inilah kesempatan bagi saya untuk memperbaiki) yang InsyaAllah selain bernilai ibadah karena mengikuti sunnah Nabi tapi juga sangat bermanfaat bagi kesehatan.

2.Tidying Up
Selama ini, resep rahasia memasak atau menjahit biasa diajarkan oleh orangtua secara turun-temurun, tapi kalau rahasia berbenah yang diajarkan secara turun-temurun sepertinya masih asing bagi saya. Jarang ada orang atau keluarga yang mempelajari teknik berbenah secara khusus. Berbeda dengan skill memasak atau menjahait yang sudah lazim dipelajari secara mendalam baik di rumah maupun di lembaga kursus atau pelatihan. Dan tidak menutup kemungkinan para perempuan kadang (atau bahkan sering) merasa kalang-kabut dalam urusan berbenah. Hal ini pula yang saya rasakan, skill beberes rumah saya masih minim. Saya mampu merapikan suatu ruangan tapi saya belum mampu menjaga kerapiannya, kerapian itu hanya bertahan beberapa hari saja (housekeepingnya jongkok, hehehe). Dan seringkali saya mendapati keadaan pikiran saya yang acak-acakan berbarengan dengan kamar saya yang bak kapal pecah. Jadi ketika pikiran saya kalut, biasanya saya butuh merapikan kamar saya terlebih dahulu agar saya dapat berpikir lebih jernih. Sayapun belum memahami apa korelasi antara kerapian rumah dengan ketenangan & kejernihan pikiran (semoga saya segera mendapatkan jawabannya, Aamiin). Well,ini pula yang membuat saya makin tertarik mempelajari teknik berbenah yang InsyaAllah saya akan menggunakan buku Miracle of Tidying Up - Marie Kondo yang terkenal dengan metode KonMari nya sebagai panduan saya dalam berbenah.

3. Cash Flow
Bagaimanapun, kemampuan managemen keuangan rumah tangga adalah suatu skill yang wajib saya kuasai. Karena saya bukan sekedar calon kasir keluarga, tapi saya adalah calon manager keuangan keluarga (biidznillah fa InsyaAllah). Perencanaan dan pengelolaan keuangan itu penting banget lhoo. Meskipun jujur, dalam hal urusan mengatur keuangan memang selama ini saya masih keteteran, (hehehe mengaku nie yee). Apalagi hasil PSP Budgeting saya yang berwarna abu-abu justru jadi cambuk buat saya untuk lebih mengexplore diri saya dalam hal managemen keuangan. Jangan kan keuangan rumah tangga, mengelola mini budget pribadi saja saya masih sering terkaget-kaget (huuaaa apalagi kalau mengelola keuangan orang 1 rumah ya?) tetapi dengan belajar saya yakin InsyaAllah kelak saya mampu mengelola keuangan rumah tangga saya (Biidznillah ya tentunya) ☺. Salah satu prinsip saya yaitu menghindari hal-hal yang haram dimana satu ikhtiarnya adalah dengan memastikan bahwa rejeki yang "masuk ke dalam perut" saya dan keluarga saya adalah rejeki yang Halalan Thoyyiban. Sehingga metode Cash Flow for Muslim - Ahmad Ghozali InsyaAllah cocok dengan diri dan kebutuhan saya.  Semangat belajar untuk calon ibu manager keuangan ☺.

4. Super Health
Seringkali saya lupa bahwa kesehatan merupakan suatu nikmat yang luar biasa (setelah nikmat iman tentunya). Dan tidak jarang pula saya mendzolimi tubuh saya sehingga tubuh saya menunjukkan proses dalam bentuk sakit (oke, udah cukup ya mendzoliminya). Ketika sakit, barulah saya ingat betapa nikmatnya sehat. Kini saya ingin belajar menjaga kesehatan saya sebagai ikhtiar saya memenuhi hak tubuh saya. Dan untuk hal ini saya memilih buku Super Health - dr.Egha Zanuar.R yang berisi gaya hidup sehat Rasulullah  sebagai panduan saya serta sayapun memilih Exercise Guide sebagai pelengkapnya.

Oke, challenge has begun. Ayo semangat buat diri saya sendiri dan teman-teman IIP memacu diri menakhlukkan challenge di materi Memandu Kemandirian Anak. Barakallahu fiik. Aamiin.


KomunikasiProduktif13: ●○◎ MENERIMA ◎○●

Posted by Hidayatun Sholihah on Rabu, Februari 22, 2017 with No comments
Pertemanan kami sudah dimulai sejak 6 tahun yang lalu, dia adalah seseorang yang ingin saya lindungi, dia adalah gadis kecil saya. Pertemanan kami baik-baik saja hingga pada suatu ketika, entah apa yang terjadi, perubahan demi perubahan mengusik kami berdua. Dimulai dari perubahan-perubahan kecil yang terjadi pada sahabat saya ini, yang awalnya masih saya terima namun lama kelamaan, saya tidak mampu menerima sosoknya yang baru. Saya merasa asing. Canda tawa kami dulu, kini berubah menjadi kesunyian dibalik kebingungan diri. Saling curhat dan mendengarkan berubah menjadi saling mengedepankan persepsi pribadi. Serasa ada bara dalam diri saya, saya merindukan sosoknya yang dulu. Pelan namun pasti tanpa saya sadari, saya pun berubah seiring dengan sifat "legowo" yang seolah kian menjauh dari hati saya. Saya tetap berbicara sehalus mungkin, mimik muka pun tetap ramah, namun hati ini hambar ketika berkomunikasi dengan dirinya. Serasa ada yg hilang dan beku di hati saya.

2 tahun telah terlewati dan bara itu masih bersemayam dalam hati. Saya masih terperangkap dalam suasana hati saya yang begitu buruk, yang membuat saya gelisah. Saya serasa marah, tapi entah saya marah dengan siapa.

Lelah,,, saya merasa menjadi sosok orang lain. Saya bersandiwara dengan sang waktu. Bagaimana bisa perubahan sikap seseorang mampu merubah sikap saya? Sangat buruk kah sahabat saya? Begitu dalam kah luka hati yang ia torehkan pada saya? Hanya segini kah stok kesabaran saya?


Sayapun merenung panjang...

Tidak, akar masalahnya bukan di sahabat saya tapi ada pada diri saya.

SAYA SEDANG JAUH DARI SIFAT MENERIMA/LEGOWO.

Ya, inilah akar masalahnya. Ketika rasa "tidak terima" itu tumbuh, artinya sebuah selftalk negatif telah meracuni saya. Ia akan menyebarkan energi dan pengaruh negatif pula pada badan, pikiran bahkan hati juga. Efeknya? Saya merasa badmood, ingin marah tapi entah pada siapa. Dampak yang paling kronis? Tanpa saya sadari saya tidak menjadi diri saya sendiri. Saya terperangkap dalam emosi dan kemarahan pribadi. Hingga akhirnya saya merasa tidak tentram, senantiasa gelisah dan bahkan tidak jarang pikiran yang negatif itu menurunkan imunitas saya sehingga saya jatuh sakit. Dan tidak jarang terbesit "Mengapa karakter saya sekarang seperti ini? Dimana diri saya yang dulu? Saya gak nyaman dengan sifat saya yang bla-bla-bla. Saya rindu diri saya yang dulu. Diri saya yang sejati bukanlah yang seperti ini." Inilah awal mula saya menyadari perubahan sifat dan karakter saya.

Sayapun mencoba menerima perubahan-perubahan yang terjadi pada teman saya (yang semoga bisa menjadi ikhlas, Aamiin). Ada luka di hati saya ketika saya mencoba menerimanya, saya pun berikhtiar pasrah pada Sang Pencipta karena Allah lah sebaik-baiknya sandaran, dan sujud adalah moment ternikmat bagi saya, saya mohon kemampuan untuk berdamai dengan takdir saya. Gayung pun bersambut, disaat rasa menerima & tawakal saya tumbuh, qodarullah rasa memaafkan itu pun hadir.

Alhamdulillah dimulai dengan menerima, perlahan saya mampu berdamai dengan karakter sahabat saya yang sekarang. Efeknya bagi diri saya? Saya pun dapat kembali ke diri saya yang dulu. Saya bisa menjadi diri saya yang tenang meski dirinya kini telah berubah. Hidup saya pun terasa jauh lebih ringan. Hari-hari pun terasa begitu indah. Gak galau lagi. Good bye my bad mood.

***

Entah berapa sering sikap saya terpengaruh oleh sikap orang lain. Ketika orang lain baik, saya pun baik. Ketika orang lain buruk? Sayapun menjadi demikian. Akar masalahnya? Saya TIDAK MENERIMA sikap orang lain.
Contohnya, ketika salah seorang teman saya secara tidak sengaja memformat flashdisk sehingga file foto-foto kenangan saya hilang. Ada 2 kemungkinan reaksi yang ditimbulkan:
Jika tidak terima → "gimana sih kamu kok teledor sampai-sampai memformat flashdisk ku? Sekarang gimana coba file foto ku hilang kan?" (marah-marah, cemberut), pikiran saya pun akan kalut, solusi untuk mengembalikan file saya pun tak sempat terpikirkan oleh saya :/
Jika menerima → "yaudah gapapa, lain kali kamu lebih hati-hati ya, nanti kita cari cara buat merecovery file ku" (intonasi tetap stabil, tersenyum & hati pun lebih tenang) ;-)

Dan perlu digaris bawahi bahwa "menerima" bukan berarti "menghapus ego". Adakalanya kita tetap mempertahankan ego kita. Ego tidak sama dengan egois. Dan adakalanya "menerima" itu diiringi dengan koreksi dan perbaikan diri.

Kini saya tegaskan pada diri saya sendiri "Biidznillah fa Insyaallah sikap saya tidak dipengaruhi oleh sikap orang lain terhadap saya". Betapa rapuhnya diri saya jika sikap oranglain menjadi pengendali sikap saya? Ketika diri ini bergumam "ngapain saya harus baik? Dia aja gak baik kok sama saya" maka saya tegaskan pada hati ini "sikap oranglain terhadapku tidaklah cukup tangguh untuk mempengaruhi sikap ku kepada nya".

Haruskah orang lain berbuat baik kepada saya agar saya mampu berbuat baik kepada orang lain?
Serapuh inikah diri saya hingga saya membalas keburukan orang lain dengan keburukan serupa?

Kini, saya sadari bahwa pijakan awal itu bernama MENERIMA. 
Menerima yang menuntun kepada kepasrahan pada Allah (TAWAKAL).
Menerima dan tawakal yang pada akhirnya melahirkan kekuatan untuk MEMAAFKAN.
Jika saya menginginkan ketentraman hidup? Maka MAAFKANLAH.

@selftalk
@menata hati untuk menerima

#18Feb2017

KomunikasiProduktif12: «««SelfTalk»»»

Posted by Hidayatun Sholihah on Rabu, Februari 22, 2017 with No comments
Masih berpacu, menantang diri saya untuk mempraktekkan komunikasi produktif. Dan ini, untuk kesekian kalinya saya mengoreksi cara komunikasi saya terhadap diri saya pribadi.
Qodarulloh selama ini saya punya beberapa alergi. Biasanya ketika saya akan berinteraksi dengan alergen saya, saya bilang "gapapa lah deket-deket sama alergen, paling cuma alergi dan aku udah siap kalau alergiku kumat". Dan belakangan baru saya ketahui bahwa kata-kata seperti ini merupakan negative selftalk dan "program sakit" yang sudah saya ciptakan jauh-jauh bahwa saya akan kena alergi. Efeknya? Saya beneran kena alergi yang membuat saya harus meetup dengan dokter spesialis saya 2 sampai 3 kali pertemuan (tergantung dari tingkat alerginya juga). Selain dari "program sakit" yang saya buat, ternyata sikap saya yang marah, menolak, dan memerangi alergi saya justru membuat alergi saya bertahan lama, saya merasa begitu payah & tersiksa ketika alergi saya kambuh.
Maka 2 hari yang lalu ketika saya akan berdekatan dengan alergen saya, saya katakan pada diri saya "Insyaallah saya kuat, alergi saya gak akan kumat". Hasilnya? Alergi saya tetap kumat tapi Alhamdulillah tidak separah biasanya. Yang biasanya saya segera ke RS, alhamdulillah di hari kedua ini saya masih bisa menahan diri saya untuk ke RS. Selain positive selftalk, saya juga belajar berdamai dengan alergi saya, saya belajar untuk pasrah pada Allah dan ikhlas dengan apa yang saya jalani sekarang. Alhamdulillah kini saya bisa menikmati kambuhnya alergi saya dan pikiran saya pun terasa ringan, gejalanya pun tidak separah biasanya.
»»»
Bagaimana selftalk bisa mempengaruhi tubuh kita? Pada kasus saya ini khususnya pada kesehatan ya. Ini opini saya tentang pengaruh selftalk terhadap kesehatan.
Penelitian Dr.Masaru Emoto yang ditulis dalam buku "The Hidden Message in Water" membuktikan keajaiban air. Apa hubungannya dengan air? Karena sejauh yang saya tahu, 70% komponen tubuh kita terdiri dari cairan. Penelitian Dr.Emoto menunjukkan pengaruh suatu kata yang dibacakan ke air yang ditandai dengan bentuk kristal yang dihasilkan. Hasilnya sbb:
a. Kata "arigato" → kristal segi enam yang indah.
b. Kata "setan" → kristal berbentuk buruk.
c. Diperdengarkan musik heavy metal → kristal hancur.
d. Diputarkan simfoni Mozart → kristal berbentuk bunga.
e. 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan "peace" 1→ kristal mengembang bercabang-cabang dengan indahnya.
f. Dibacakan doa Islam → terbentuk kristal segienam dengan lima cabang daun muncul berkilauan.
Kesimpulannya, air bersifat bisa merekam pesan (Sumber: buku Super Health - dr.Egha Zainur.R hal 24-25).
Berhubung tubuh kita 70% terdiri dari cairan, maka ketika kita mengatakan positive selftalk maka cairan di tubuh kita akan merekam pesan positif dan selanjutnya memberi energi positif juga kepada sel dan organ tubuh kita. Sel di tubuh kita akan menerimanya sebagai pesan dan perintah untuk terus melakukan regenerasi sel-sel dalam tubuh kita sehingga kitapun sehat. Ini sekedar opini saya, saya mohon maaf jika ada kekeliruan, wallahu a'lam.
Tapi yang pasti, apa yang kita ucapkan akan menimbulkan vibrasi bagi diri kita maupun alam dan lingkungan sekitar kita dan kita akan mendapatkan feedback sesuai dengan apa yang kita ucapkan, ya ini seperti 2 garpu tala yang digetarkan. Jika yang kita ucapkan adalah kalimat-kalimat positif, maka energi positif lah yang kita terima, begitu pula sebaiknya. Jadi yuk mari latih diri kita untuk mengucapkan kata & kalimat positif baik ketika berkomunikasi dengan diri sendiri (selftalk) maupun ketika berkomunikasi dengan oranglain.
Latih diri untuk ucapkan positive selftalk.
#13Feb2017

KomunikasiProduktif11: ◎○●Sudahkah Saya Memahami Perasaan Orang Lain?●○◎

Posted by Hidayatun Sholihah on Rabu, Februari 22, 2017 with No comments
"Tadi Dek Akbar disuruh push up sama ngelilingi lapangan ew, sebel deh"
"Haha Dek Akbar pasti melanggar peraturan ya makanya dihukum"
"Mbak Ida mah (berlalu dengan muka kesal)"
Itulah yang terjadi kemarin, secara tidak sadar saya sudah melakukan 2 kesalahan kesalahan sekaligus dalam komunikasi saya kemarin, yang pertama yaitu unclarify dan saya tidak menghadirkan hati saya. Dan parahnya saya tidak menyadari hal itu. Resultnya? Adik saya merasa kesal kepada saya.
Dan Allah menegur saya lewat kejadian semalam.
"Ta, aku gy sedih ini soalnya tadi aku bla bla bla"
"Nah, kamunya sih Da yang bla bla bla. Kamu harus bla bla bla"
Niat hati ingin perasaan saya ini didengar, diterima dan dihargai terus saya nya dikasih support gitu. Tapi nyatanya, yang saya dapatkan palah seolah-olah saya disalahkan. Gleg, seketika saja jadi merasa gak percaya diri, bingung dengan perasaan saya sendiri, ngejudge diri saya, kesal deh rasanya dan ada perasaan takut untuk curhat. "Kayaknya emang gak ada yang bisa ngertiin perasaan saya deh, udahlah dipendam sendiri aja" (gerutu saya dalam hati, padahal kalau dipendam sendiri seringnya saya larut dalam kesedihan, hahaha cengeng gitu).
Sstttt saya jadi inget kejadian pas sama adik saya. Ya, mungkin demikian juga yang adik saya rasakan, dia ingin didengarkan tapi saya dengan seenaknya palah secara tidak langsung memojokkan adik saya. Akhirnya tadi siang Alhamdulillah ada moment yang pas buat ngobrol berdua.
Saya tepuk pundak adik saya.
"Dek Akbar" (pastikan lawan bicara sudah fokus dan siap menerima pesan dari saya)
"Iya Mbak"
"Mbak minta maaf ya."
"Iya Mbak"
"Hari ini kesal lagi gak di sekolah?" (sambil menatap dan senyum pada adik saya)
"Iya nie mbak"
"Boleh gak kalau Mbak tau ceritanya?"
"Jadi thu tadi Adek dipanggil ke ruang guru karena bla bla bla" dan Alhamdulillah suasana obrolan kami mencair kembali dengan sesekali diiringi gelak canda tawa kami.
●●●
Saya teringat salah satu tulisan Bunda Septi "Pada dasarnya kebutuhan manusia yang paling dalam adalah keinginan agar perasaannya didengar, diterima, dimengerti dan dihargai. Jadi dalam komunikasi, kita perlu meningkatkan kemampuan kita dalam mencoba memahami perasaan oranglain."
Seringkali, hasil komunikasi yang saya lakukan tidak sesuai yang diharapkan karena saya belum mampu memahami perasaan lawan bicara saya dan kadang juga sebaliknya. Kadang kita hanya perlu didengarkan, dimotivasi dan ada kalanya juga kita butuh saran, pendapat bahkan nasihat. Namun tidak selalu nya ketika kita curhat, kita butuh dinasehati atau bahkan yang tidak diharapkan adalah mendapat tanggapan seperti disalahkan atau dipojokkan oleh lawan bicara kita. Jadi sangat penting bagi saya untuk memahami perasaan lawan bicara saya agar saya paham bagaimana respon saya terhadap pesan yang saya terima, tentunya sesuai dengan kebutuhan lawan bicara saya ya.
Dan untuk memahami perasaan orang lain, sangat perlu untuk menghadirkan hati dalam setiap komunikasi. Selain itu, cara "nepakke nang awak'e dewe" bisa juga membantu untuk mengasah kemampuan kita untuk memahami perasaan orang lain.

Semangat melanjutkan tantangan komunikasi produktif.

#11Feb2017

Komunikasi Produktif10: ◎●○ Kaidah 2C ○●◎

Posted by Hidayatun Sholihah on Rabu, Februari 22, 2017 with No comments
Tadi malam ada acara di rumah saya dan jadilah saya membantu di dapur (cie elaahhh padahal masak air aja kadang gosong karena lupa, ini palah membantu di urusan masak-memasak). Karena saya tipe orang yang ingin memuaskan orang yang saya bantu, jadi saya sering tanya ini dan itu agar semuanya jelas (saking seringnya nanya jadinya kadang dapat jawaban "terserah" :/ )
Seperti saat saya menata hidangan tadi malam:
"Hidangan nya mau ditata bagaimana?"
"Terserah Ida aja"
"Tapi Ida bingung mau ditata gimana, Mbah maunya hidangan ini ditata gimana?"
"Udah ditata aja"
"Kalau ditata seperti ini bagaimana"
"Ya boleh"
Dengan penuh keyakinan saya menata hidangan sambil diamati Mbah, tanpa dikoreksi pula oleh Mbah, makin PD deh sayanya. "Alhamdulillah Mbah diam aja semoga ini sesuai dengan keinginan Mbah, Aamiin"
Saat hidangan sudah disajikan kepada tamu...
"Seharusnya tadi hidangan nya disusun seperti ini dan begini, bla bla bla"
(Senyum kecut dengan wajah innocent saya) "Maaf Ida sudah mengecewakan, tadi Ida nanya tapi cuma dijawab terserah jadi kan Ida buat sebisa Ida"

***

Para perempuan pasti tau gimana rasanya ketika minta pendapat dan hanya dijawab dengan "terserah" (yang pasti bingung nya tuh disini). Dan salah satu penyebab missed communication ya ini dia "unclear and unclarify", dampaknya? Biasanya kita jadi terkurung pada tebakan kita, percaya pada asumsi kita dan memakai rumus "kira-kira". Padahal ya bisa jadi apa yang kita asumsikan, tidak sama lhoo dengan apa yang diinginkan atau yang dimaksud oleh lawan bicara kita. Ketika kita belum paham, ada baiknya kita meminta penjelasan kepada lawan bicara dan ketika diminta menjelaskan atau mengklarifikasi, seyogyanya kita berani menyampaikan pendapat, keinginan atau gagasan kita.
Jadi, ada beberapa koreksi untuk kejadian semalam, diantaranya:
1. Jika di pihak saya → harus mengklarifikasi informasi yang belum kita pahami atau kita ragu tentang informasi tersebut, DON'T ASSUME. Jangan asyik sama asumsi kita deh, jangan sok tau :v .
Kalau lawan bicara kita adalah tipe orang yang lebih suka bilang "terserah" atau "semau kamu", nah ini jadi tantangan tersendiri buat kita untuk bantu si dia agar berani menyampaikan gagasannya.
Kelihatannya sih sepele tapi kalau kaidah Clear and Clarify ini tidak dilaksanakan dengan baik ya bisa bikin galau, contohnya ketika sepasang suami istri ingin menghadiri walimah, si istri tanya "Ayah, Bunda bagus nya pake baju yang mana, kerudungnya yang model gimana?". Si suami dengan santainya jawab "Terserah Bunda aja, Ayah ngikut". Si istri pun memakai pakaian yang menurutnya "Bagus dan Baik". Begitu mau berangkat, si suami bilang "Bunda kok palah pake baju yang ini? Ini kan bla bla bla". Jadilah si istri ganti baju lagi sambil menghela nafas panjang, nggrundel deh di hati. Awalnya sih pengen ke walimah bersama mas suami tercinta biar makin mesra, tapi alih-alih mo mesra yang ada si istri udah ndongkol duluan karena baju yang dia pakai gak sesuai dengan keinginan suami, ganti baju lagi, ngabisin waktu deh >:O . Yang awalnya mo pergi kondangan dengan senyum lebar, jadinya ke kondangan sambil manyun, xixixi :v . (Emang Mbak Ida pernah ngalamin ya? Kayaknya nikah aja belum lhoo. »»» Sssttt ini kan pengalaman saya pas mo ke acara walimah bersama teman saya dan suaminya).
2. Jika di pihak lawan bicara saya → berusaha untuk memberikan informasi sejelas mungkin, ungkapkan apa yang menjadi keinginan dan gagasan kita. Jangan asal bilang "terserah", ntar pas hasilnya gak sesuai dengan keinginan, ech itu bibir dikuncir aja :3 . Hellooo, bagaimanapun juga, lawan bicara kita itu bukan paranormal yang bisa baca pikiran kita, yang bisa tau keinginan kita tanpa kita bilang. Jadi buat apa main tebak-tebakan. Berharap lawan bicara mengerti keinginan kita tapi kita pakenya kode-kodean. Dijalan ditanya "Lapar gak?" padahal udah lapar banget itu, tapi karena jaim jawabnya "Belum kok", katanya belum lapar tapi sampai rumah udah pucat karena perutnya sakit, haha kasihan dech. Alamaakkk, mending bilang apa adanya kan daripada nyusahin diri sendiri? ;-)
Okelah, saatnya saya melanjutkan latihan praktek kaidah 2C. Semangat....
Be Clear and Clarify. DON'T ASSUME.
#3Feb2017