Rabu, 22 Februari 2017

One Week One Skill

Posted by Hidayatun Sholihah on Rabu, Februari 22, 2017 with No comments
Hi my new chapter, I wish you welcome for my new challenge ☺. Kini saatnya saya memacu diri saya di materi kedua di KuliahBunSayIIP, yaitu tentang Memandu Kemandirian Anak. Kata Anak nya langsung bikin saya mupeng sama challenge nya. Kalau saya ngasuh anak mah oke nie bisa langsung praktek sama anak, tapi nyatanya saya kan belum ngasuh anak (secara konsisten dan kontinyu). Kalau sesekali momong adik sepupu mah biasa, lumayan kan buat sesekali ajang praktek materi BunSay☺. Materi saya cerna pelan-pelan, Alhamdulillah sudah ada gambaran dan tibalah saatnya challenge diberikan. Especially untuk yang masih single bahagia seperti saya ini, challenge kali ini adalah One Week One Skill. Eaaa, saya langsung merenungkan basic skills apa aja yang belum saya kuasai dan ternyata hasilnya buanyaaakkk bu. Rasanya saya pengen bisa ini dan itu banyak sekali. Layaknya ilmu, skill juga jangan kayak badai ya, harus punya prioritas dan milestone yang jelas dalam mempelajarinya. Well, saya pun di H+1 dari pemberian challenge alias kemarin, saya merenung lama untuk menentukan skill apa saja yang paling menjadi prioritas saya. Alhamdulillah kemarin saya dapat 1 skill yaitu Tidying Up. Padahal kan minimal ada 4 skill ya? Berarti masih kurang 3 lagi, akhirnya perenungan berlanjut di hari ini dan saya dapat tiga skill lagi yaitu Table Manner, Cash Flow dan Super Health. Alhamdulillah complete for my first 4 basic skills.

My First One Week One Skill

Mungkin ada yang merasa aneh ya dengan 4 skills yang saya pilih karena biasanya kan basic skill perempuan itu identik dengan masak, iya gak? Sebenarnya skill memasak juga menjadi agenda saya karena saya juga belum pandai masak (tutupin muka deh). Tapi berhubung ada sesuatu hal jadi skill memasak akan saya pelajari di kesempatan selanjutnya ya, Insya Allah. Sekarang saya fokus ke skill yang sudah saya tentukan terlebih dahulu. Saya menyadari betapa pentingnya bagi saya untuk menguasai keterampilan-keterempilan dasar. Karena saya calon manager keluarga (InsyaAllah, Aamiin.)

Oh ya, mungkin ada bertanya kenapa sih saya memilih 4 skills diatas? Nah, ini dia alasan saya:

1. Table Manner
Kultur budaya di masyarakat saat ini kurang memperhatikan bagaimana table manner yang baik dan benar. Table Manner sendiri ada 3, yaitu Table Manner Syariah, Table Manner Konvensional dan Table Manner Internasional. Dan kali ini saya lebih fokus mempelajari Table Manner Syariah. Table Manner ini sangat bermanfaat ketika saya makan bersama. However, ketika cara makan saya dengan sikap yang tidak umum, pasti akan mengganggu orang lain. Bahkan terkadang, tata cara di meja mencerminkan etika dan kepribadian seseorang. Seberapa pun tingginya jabatan seseorang atau seorang "terpelajar" tapi jika adab makannya buruk, (misalnya ketika mulutnya penuh dengan makanan, sambil mengunyah dia tetap meneruskan pembicaraan dengan saya hingga makanan yang dikunyahnya nampak jelas di hadapan saya) itu menjadikan saya merasa terganggu. Seenak apapun hidangannya kalau terganggu dengan cara makan orang lain, kan jadi gak selera lagi, ya gak? Selain itu, Nabi Muhammad pun telah mengajarkan adab makan yang baik dan benar (tapi belum sepenuhnya mampu saya praktekkan, sehingga inilah kesempatan bagi saya untuk memperbaiki) yang InsyaAllah selain bernilai ibadah karena mengikuti sunnah Nabi tapi juga sangat bermanfaat bagi kesehatan.

2.Tidying Up
Selama ini, resep rahasia memasak atau menjahit biasa diajarkan oleh orangtua secara turun-temurun, tapi kalau rahasia berbenah yang diajarkan secara turun-temurun sepertinya masih asing bagi saya. Jarang ada orang atau keluarga yang mempelajari teknik berbenah secara khusus. Berbeda dengan skill memasak atau menjahait yang sudah lazim dipelajari secara mendalam baik di rumah maupun di lembaga kursus atau pelatihan. Dan tidak menutup kemungkinan para perempuan kadang (atau bahkan sering) merasa kalang-kabut dalam urusan berbenah. Hal ini pula yang saya rasakan, skill beberes rumah saya masih minim. Saya mampu merapikan suatu ruangan tapi saya belum mampu menjaga kerapiannya, kerapian itu hanya bertahan beberapa hari saja (housekeepingnya jongkok, hehehe). Dan seringkali saya mendapati keadaan pikiran saya yang acak-acakan berbarengan dengan kamar saya yang bak kapal pecah. Jadi ketika pikiran saya kalut, biasanya saya butuh merapikan kamar saya terlebih dahulu agar saya dapat berpikir lebih jernih. Sayapun belum memahami apa korelasi antara kerapian rumah dengan ketenangan & kejernihan pikiran (semoga saya segera mendapatkan jawabannya, Aamiin). Well,ini pula yang membuat saya makin tertarik mempelajari teknik berbenah yang InsyaAllah saya akan menggunakan buku Miracle of Tidying Up - Marie Kondo yang terkenal dengan metode KonMari nya sebagai panduan saya dalam berbenah.

3. Cash Flow
Bagaimanapun, kemampuan managemen keuangan rumah tangga adalah suatu skill yang wajib saya kuasai. Karena saya bukan sekedar calon kasir keluarga, tapi saya adalah calon manager keuangan keluarga (biidznillah fa InsyaAllah). Perencanaan dan pengelolaan keuangan itu penting banget lhoo. Meskipun jujur, dalam hal urusan mengatur keuangan memang selama ini saya masih keteteran, (hehehe mengaku nie yee). Apalagi hasil PSP Budgeting saya yang berwarna abu-abu justru jadi cambuk buat saya untuk lebih mengexplore diri saya dalam hal managemen keuangan. Jangan kan keuangan rumah tangga, mengelola mini budget pribadi saja saya masih sering terkaget-kaget (huuaaa apalagi kalau mengelola keuangan orang 1 rumah ya?) tetapi dengan belajar saya yakin InsyaAllah kelak saya mampu mengelola keuangan rumah tangga saya (Biidznillah ya tentunya) ☺. Salah satu prinsip saya yaitu menghindari hal-hal yang haram dimana satu ikhtiarnya adalah dengan memastikan bahwa rejeki yang "masuk ke dalam perut" saya dan keluarga saya adalah rejeki yang Halalan Thoyyiban. Sehingga metode Cash Flow for Muslim - Ahmad Ghozali InsyaAllah cocok dengan diri dan kebutuhan saya.  Semangat belajar untuk calon ibu manager keuangan ☺.

4. Super Health
Seringkali saya lupa bahwa kesehatan merupakan suatu nikmat yang luar biasa (setelah nikmat iman tentunya). Dan tidak jarang pula saya mendzolimi tubuh saya sehingga tubuh saya menunjukkan proses dalam bentuk sakit (oke, udah cukup ya mendzoliminya). Ketika sakit, barulah saya ingat betapa nikmatnya sehat. Kini saya ingin belajar menjaga kesehatan saya sebagai ikhtiar saya memenuhi hak tubuh saya. Dan untuk hal ini saya memilih buku Super Health - dr.Egha Zanuar.R yang berisi gaya hidup sehat Rasulullah  sebagai panduan saya serta sayapun memilih Exercise Guide sebagai pelengkapnya.

Oke, challenge has begun. Ayo semangat buat diri saya sendiri dan teman-teman IIP memacu diri menakhlukkan challenge di materi Memandu Kemandirian Anak. Barakallahu fiik. Aamiin.


Categories:

0 komentar:

Posting Komentar