Pertemanan kami sudah dimulai sejak 6 tahun yang lalu, dia adalah seseorang yang ingin saya lindungi, dia adalah gadis kecil saya. Pertemanan kami baik-baik saja hingga pada suatu ketika, entah apa yang terjadi, perubahan demi perubahan mengusik kami berdua. Dimulai dari perubahan-perubahan kecil yang terjadi pada sahabat saya ini, yang awalnya masih saya terima namun lama kelamaan, saya tidak mampu menerima sosoknya yang baru. Saya merasa asing. Canda tawa kami dulu, kini berubah menjadi kesunyian dibalik kebingungan diri. Saling curhat dan mendengarkan berubah menjadi saling mengedepankan persepsi pribadi. Serasa ada bara dalam diri saya, saya merindukan sosoknya yang dulu. Pelan namun pasti tanpa saya sadari, saya pun berubah seiring dengan sifat "legowo" yang seolah kian menjauh dari hati saya. Saya tetap berbicara sehalus mungkin, mimik muka pun tetap ramah, namun hati ini hambar ketika berkomunikasi dengan dirinya. Serasa ada yg hilang dan beku di hati saya.
2 tahun telah terlewati dan bara itu masih bersemayam dalam hati. Saya masih terperangkap dalam suasana hati saya yang begitu buruk, yang membuat saya gelisah. Saya serasa marah, tapi entah saya marah dengan siapa.
Lelah,,, saya merasa menjadi sosok orang lain. Saya bersandiwara dengan sang waktu. Bagaimana bisa perubahan sikap seseorang mampu merubah sikap saya? Sangat buruk kah sahabat saya? Begitu dalam kah luka hati yang ia torehkan pada saya? Hanya segini kah stok kesabaran saya?
Sayapun merenung panjang...
Tidak, akar masalahnya bukan di sahabat saya tapi ada pada diri saya.
SAYA SEDANG JAUH DARI SIFAT MENERIMA/LEGOWO.
Ya, inilah akar masalahnya. Ketika rasa "tidak terima" itu tumbuh, artinya sebuah selftalk negatif telah meracuni saya. Ia akan menyebarkan energi dan pengaruh negatif pula pada badan, pikiran bahkan hati juga. Efeknya? Saya merasa badmood, ingin marah tapi entah pada siapa. Dampak yang paling kronis? Tanpa saya sadari saya tidak menjadi diri saya sendiri. Saya terperangkap dalam emosi dan kemarahan pribadi. Hingga akhirnya saya merasa tidak tentram, senantiasa gelisah dan bahkan tidak jarang pikiran yang negatif itu menurunkan imunitas saya sehingga saya jatuh sakit. Dan tidak jarang terbesit "Mengapa karakter saya sekarang seperti ini? Dimana diri saya yang dulu? Saya gak nyaman dengan sifat saya yang bla-bla-bla. Saya rindu diri saya yang dulu. Diri saya yang sejati bukanlah yang seperti ini." Inilah awal mula saya menyadari perubahan sifat dan karakter saya.
Sayapun mencoba menerima perubahan-perubahan yang terjadi pada teman saya (yang semoga bisa menjadi ikhlas, Aamiin). Ada luka di hati saya ketika saya mencoba menerimanya, saya pun berikhtiar pasrah pada Sang Pencipta karena Allah lah sebaik-baiknya sandaran, dan sujud adalah moment ternikmat bagi saya, saya mohon kemampuan untuk berdamai dengan takdir saya. Gayung pun bersambut, disaat rasa menerima & tawakal saya tumbuh, qodarullah rasa memaafkan itu pun hadir.
Alhamdulillah dimulai dengan menerima, perlahan saya mampu berdamai dengan karakter sahabat saya yang sekarang. Efeknya bagi diri saya? Saya pun dapat kembali ke diri saya yang dulu. Saya bisa menjadi diri saya yang tenang meski dirinya kini telah berubah. Hidup saya pun terasa jauh lebih ringan. Hari-hari pun terasa begitu indah. Gak galau lagi. Good bye my bad mood.
***
Entah berapa sering sikap saya terpengaruh oleh sikap orang lain. Ketika orang lain baik, saya pun baik. Ketika orang lain buruk? Sayapun menjadi demikian. Akar masalahnya? Saya TIDAK MENERIMA sikap orang lain.
Contohnya, ketika salah seorang teman saya secara tidak sengaja memformat flashdisk sehingga file foto-foto kenangan saya hilang. Ada 2 kemungkinan reaksi yang ditimbulkan:
Jika tidak terima → "gimana sih kamu kok teledor sampai-sampai memformat flashdisk ku? Sekarang gimana coba file foto ku hilang kan?"
(marah-marah, cemberut), pikiran saya pun akan kalut, solusi untuk mengembalikan file saya pun tak sempat terpikirkan oleh saya
:/
Jika menerima → "yaudah gapapa, lain kali kamu lebih hati-hati ya, nanti kita cari cara buat merecovery file ku"
(intonasi tetap stabil, tersenyum & hati pun lebih tenang)
;-)
Dan perlu digaris bawahi bahwa "menerima" bukan berarti "menghapus ego". Adakalanya kita tetap mempertahankan ego kita. Ego tidak sama dengan egois. Dan adakalanya "menerima" itu diiringi dengan koreksi dan perbaikan diri.
Kini saya tegaskan pada diri saya sendiri "Biidznillah fa Insyaallah sikap saya tidak dipengaruhi oleh sikap orang lain terhadap saya". Betapa rapuhnya diri saya jika sikap oranglain menjadi pengendali sikap saya? Ketika diri ini bergumam "ngapain saya harus baik? Dia aja gak baik kok sama saya" maka saya tegaskan pada hati ini "sikap oranglain terhadapku tidaklah cukup tangguh untuk mempengaruhi sikap ku kepada nya".
Haruskah orang lain berbuat baik kepada saya agar saya mampu berbuat baik kepada orang lain?
Serapuh inikah diri saya hingga saya membalas keburukan orang lain dengan keburukan serupa?
Kini, saya sadari bahwa pijakan awal itu bernama MENERIMA.
Menerima yang menuntun kepada kepasrahan pada Allah (TAWAKAL).
Menerima dan tawakal yang pada akhirnya melahirkan kekuatan untuk MEMAAFKAN.
Jika saya menginginkan ketentraman hidup? Maka MAAFKANLAH.
@selftalk
@menata hati untuk menerima